Asesmen Nasional (AN) Saat Pandemi



Jumat, 24 September 2021 - 21:35:44 WIB



Oleh: Amri Ikhsan*

 

 

Asesmen Nasional (selanjutnya disingkat AN) adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah. Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar siswa yang mendasar: literasi, numerasi, dan karakter (Kemdikbud). Artinya, pemerintah ingin ‘bercermin’ pada kompetensi siswa, berkualitas siswa berarti bermutu pula guru dalam pembelajaran.

Diyakini AN menghasilkan informasi untuk memetakan kualitas di seluruh indonesia dan memberikan umpan balik kepada sekolah, kepada madrasah, dan pemda (Kemdikbud). Dengan adanya informasi ini akan memudahkan pemerintah melakukan intervensi untuk menaikkan mutu santuan pendidikan.

Tapi, bagi siswa, guru, kepala sekolah/madrasah, apapun namanya mulai dari EBTA, EBTANAS, UAN, UANBN, UANBN BK, UNBN, UNBN BK sampai AN sedikit banyak akan memberi ‘beban’. Bagaimanapun caranya ‘promosi’ ujian ini tidak berpengaruh terhadap peringkat, kualitas sekolah atau madrasah, namun ‘yang namanya ujian’ tetap memiliki dampak tersendiri. 

POS AN yang mengatur pelaksanaan asesmen ini menyatakan, jika tidak ada halangan mulai pertengahan September 2021, AN akan diselenggarakan, yang di dalamnya terdiri dari Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survey Karakter (SK), dan Survey Lingkungan Belajar (SLB). Dan ini ‘beban’ bagi satuan pendidikan baik menyiapkan insfrastruktur maupun menyiapkan siswa, apalagi di tengah pandemi

Seperti diketahui, AKM mengukur hasil belajar kognitif (literasi membaca dan numerasi). kemampuan yang mendasar dan diperlukan oleh semua siswa, terlepas dari profesi dan cita-citanya di masa depan. Literasi dan numerasi diyakini menjadi modal dasar siswa untuk ‘hidup’ di era distrupsi, era digital. AKM menghilangkan sekat sekat mata pelajaran.

Survey karakter dirancang untuk mengukur capaian belajar siswa dari hasil belajar non kognitif (sikap, kebiasaan, dan nilai-nilai) dalam sosial-emosional, sedangkan survey lingkungan belajar dilakukan untuk mengumpulkan informasi mengenai aspek yang menunjang kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah. 

Pelaksanaan AN di masa pandemi Covid-19 harus disegerakan karena pemerintah sama sekali tak memiliki informasi untuk bisa menguantifikasi dampak learning loss selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) berlangsung. Padahal, PJJ sudah berjalan lebih kurang 2 tahun. AN merupakan salah satu strategi untuk mengatasi dampak Learning Loss yang timbul akibat pembelajaran daring selama pandemic dan untuk mendiagnosis masalah dan perbaikan pembelajaran oleh guru, kepala sekolah, dan dinas pendidikan (Kemdikbud)

Bagi satuan pendidikan, sebenarnya ada beberapa  efek penyerta (nurturant effect dari AN di tengah pandemi: Pertama, belajar bernalar, menjawab pertanyaan yang tidak ada dalam teks, siswa wajib mengkonstruksi jawaban sendiri dari hasil belajar kognitif. Model menjawab soal ini sangat jarang dilakukan dalam pembelajaran, biasanya guru memberi pertanyaan yang jelas ada jawaban dalam teks.

Literasi identik dengan membaca dan menulis, kemampuan menganalisis, dan kemampuan memecahkan masalah. Sedangkan Numerasi mencakup kemampuan berpikir menggunakan konsep, serta kemampuan menganalisis tabel, grafik, bagan, dll. Jujur selama ini, pertanyaan yang diberikan didominasi soal mengingat, memahami dengan unsur pertanyaan: apa, dimana, kapan, siapa.

Kedua, bentuk soal yang berbeda beda: soal objektif seperti pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, dan isian singkat, Soal non objektif seperti uraian. Sedang siswa selama ini dirasakan sudah terbiasa menjawab soal dengan format satu atau dua jenis soal, biasanya objektif dan uraian. 

Ketiga, hati hati dengan label minimum. Tidak semua Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) akan diuji. Bisa saja ada pihak yang berkesimpulan: “yang minimum saja hasilnya tidak maksimal, apalagi kalau keseluruhan”.

Dan tidak semua siswa mengikuti AN ini (kelas 5, 8 dan 11) yang dipilih secara acak. Hanya 30 siswa untuk SD/MI, 45 siswa jenjang SMP, SMA, dan SMK. Bisa dikatakan siswa inilah yang akan menentukan kualitas satuan pendidikan. Mudah mudah mereka tidak menjadi pihak yang paling bertanggung jawab kalau ‘nilai’ satuan pendidikan tidak memuaskan.

Keempat, sudah disampaikan berkali-kali bahwa AN tidak menimbulkan konsekuensi terhadap inidividu siswa, guru, maupun kepala sekolah. Sangat dikhawatirkan publik memiliki ‘kemampuan’ sendiri untuk menyimpulkan hasil AN. Dan inilah yang ‘paling ditakutkan’ bagi sekolah atau madrasah yang jumlah siswanya ‘mengkhawatirkan’. Hasil positif akan menjadi promosi, tapi kalau hasil negatif akan menjadi degradasi.

Kelima, ujian bagi sekolah ‘biasa’. Bagi sekolah yang berada di kota dengan infrastruktur yang lengkap, belajar dari rumah tentu tidak menjadi persoalan serius. Mereka dapat memanfaatkan internet untuk aplikasi Zoom Meeting, E learning, Google Class, Whatsapp Group, dll. 

Tapi ini akan menjadi problem bagi satuan pendidikan yang memiliki akses internet yang terbatas, kuota yang terbatas, penguasaan teknologi yang pas pasan, listrik yang ‘tidak bersahabat’, tentu akan berpengaruh dengan hasil AN. Apakah kita memang suka membandingkan sesuatu yang memang sudah berbeda?

Keenam, pertaruhan bagi guru dalam pembelajaran, cara kepala sekolah/madrasah memimpin pembelajaran, pengawas dalam supervisi, cara pemerintah daerah (pemda) melakukan evaluasi. 

Kalau hasil AN tidak ‘memuaskan’, diyakini ada pihak yang akan ‘menunjuk’ guru sebagai pihak yang paling berperan, mengidentifikasi kepala sekolah/madrasah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab, pengawas sebagai pihak yang wajib menjelas kenapa hasil AN seperti itu. 

Bagi sekolah swasta, hasil AN memengaruhi persepsi publik sekolah itu. Ini berarti pertaruhan masa depan sekolah. “Menaikkan” nilai AN sangat potensial. Siswa terpaksa dilatih mempersiapkan soal-soal AKM. Kepala sekolah, guru, dan pengawas akan bersinergi agar hasil AN menjadi baik apa pun caranya. Survei karakter dan lingkungan belajat juga berpotensi dimanipulasi. (Koesuma). Siswa akan didrill memilih menjawab yang baik, yang positif agar sekolah terkesan berkualitas.

Ketujuh, sudahlah, kalau nilai siswa atau satuan pendidikan tidak sesuai dengan apa yang harapkan, salahkan saja pandemi, karena pandemi inilah siswa tidak bisa belajar maksimal. Diyakini, semua orang akan maklum dengan alasan ini.

Harus diakui, kualitas pembelajaran tidak bisa direkayasa, kualitas siswa sangat tergantung dari kualitas pembelajaran. Kualitas pembelajaran sangat tergantung dari kualitas guru. Mari kita hadapi AN dengan bijak!*

 

 

Penulis adalah: Pendidik di Madrasah*



Artikel Rekomendasi