Uang Tidak Bisa Dimakan



Selasa, 04 Mei 2021 - 20:30:18 WIB



Musri Nauli
Musri Nauli

Oleh: Musri Nauli

Ketika salah seorang teman di FB mengirimkan poster anak Kecil yang menanam pohon, dilengkapi masker dan tabung oksigen dan memuat kata-kata “Save Earth” - Saat pohon terakhir ditebang, ikan terakhir dimakan dan sungai terakhir diracun. Anda akan menyadari bahwa anda tidak bisa makan uang. Tolong tanam pohon. Tanam Harapan”, seketika emosi saya kemudian meledak. Seakan-akan makna poster yang dikirimi mempunyai makna.

Kata “Saat pohon terakhir ditebang, ikan terakhir dimakan dan sungai terakhir diracun. Anda akan menyadari bahwa anda tidak bisa makan uang” telah lama terpatri di ruangan kantor Walhi Jambi.

Kata-kata yang dikumandangkan oleh Eric Weiner masih berupa slogan. Yang belum mempunyai makna.

Erick Weiner dikenal sebagai Penulis buku “Geography of Genius” yang memuat kisah perjalanan ke berbagai tempat. Erick Weiner mampu menerangkan tempat-tempat yang didatangi ternyata dihasilkan kebudayaan tinggi. Kebudayaan tinggi yang dihasilkan oleh kejeniusan orang yang tinggal didalamnya.

Kata-kata yang mengandung magis belum mempunyai makna. Namun ketika seorang teman mengirimkan pada saat sekarang maka mempunyai makna.

Poster yang menggambarkan anak Kecil menggunakan masker dan tabung oksigen mempunyai makna.

Sudah lazim dan Sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, praktek menggunakan masker didalam keseharian.

Belum usai “siksaan menggunakan masker”, akhir-akhir ini kita kemudian dihebohkan “daya ledak” pandemi covid di India. Kompas melaporkan pada tanggal 28 April saja, korban sudah mencapai 200 ribu orang. Dengan tingkat kasus harian bisa mencapai 300 ribu. Dengan tingkat kematian bisa mencapai 3 ribu sehari.

Bahkan data terbaru menunjukkan, korban sudah mencapai 350 ribu/hari. Sehingga korban sudah mencapai 19 juta orang.

Berbagai tayangan di televisi menggambarkan kepanikan di India.

Komentar dari masyarakat di India diantaranya seperti “saya punya mobil. Saya punya uang. Saya punya rumah. Saya punya uang. Tapi oksigen tidak ada”.

“Saya bisa membeli apapun. Tapi tidak ada yang menjual oksigen”.

Demikian seruan yang terdengar. Sekali lagi menggambarkan kepanikan India. Daya ledak di India diluar perkiraan.

Semula masyarakat “begitu konfident” menghadapi pandemi Corona. Dengan ditemukan vaksin sekaligus telah dilakukan vaksinasi membuat mereka kemudian sempat lalai.

Berbagai kegiatan sehari-hari mulai berjalan. Mall dan pasar tumpah ruah. Pesta perkawinan dilangsungkan dimana-mana.

Bahkan berbagai tradisi perayaan agama dilangsungkan. Semuanya dilakukan dengan “kepongahan”. Mereka sudah yakin melalui pandemik corona dengan baik.

Namun “daya ledaknya” kemudian muncul. Tanpa “ba-bi-bu”, kerumuman yang semula dilarang kemudian memakan korban.

Daya ledaknya meluluhlantakkan. Bak tsunami. Menerjang masyarakat.

Seketika itu semua korban berteriak kesakitan. Mencari oksigen yang sudah sulit didapatkan.

Seketika itu juga, saya kemudian teringat kata-kata magis dari Eric Weiner. “Saat pohon terakhir ditebang, ikan terakhir dimakan dan sungai terakhir diracun. Anda akan menyadari bahwa anda tidak bisa makan uang” mempunyai makna.

Dan temanku di FB kemudian menegaskan. Poster menggunakan masker dan tabung oksigen semakin mengukuhkan. “Uang tidak bisa dimakan”.

Advokat. Tinggal di Jambi











loading...