Catatan Singkat Untuk Para Buzzer di Pilgub Jambi 2020



Selasa, 22 Desember 2020 - 18:23:37 WIB



Oleh : Citra Darminto*

 

Sebelum dunia maya digunakan untuk sosialisasi dan kampanye kandidat dalam pemilukada, masyarakat hanya mengenal adanya tim kampanye dan tim sukses. Tim kampanye terdaftar secara resmi di KPU, sementara tim sukses merupakan tim keluarga/kerabat dan tidak perlu didaftarkan secara resmi di KPU.

Namun setelah maraknya dunia maya dimanfaatkan sebagai media sosialisasi dan kampanye, pendukung kandidat yang akan maju bertarung dalam pemilukada bukan hanya tim kampanye dan tim sukses yang diandalkan dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat agar ikut memilih kandidat. Buzzer ataupun para pendengung di media sosial juga berperan penting dalam kampanye, selain dapat memberikan ruang untuk kebebasan berekspresi di media sosial juga bisa menjadi ajang mempengaruhi pemilih.

Para buzzer menyampaikan pesan secara persuasif dan asertif, namun ada juga dengan cara agresif menyerang dalam mempengaruhi pemilih lewat negatif campaign dan black campain. Mereka  secara bebas, terbuka dan terang-terangan bahkan terkesan mengajak membenci kandidat yang tidak didukungnya. Ironisnya, pengguna media sosial berlomba mendaulat hak mereka sendiri untuk menyuarakan pendapat sembari membungkam suara-suara dari pihak yang berbeda. Kondisi ini menjadi lahan subur bagi narasi-narasi sektarian dan rasialis untuk tumbuh.

Secara umum penulis menilai percakapan dan interaksi antar pengguna media sosial tentang pelaksanaan Pilkada ditandai dengan upaya-upaya pembentukan musuh bersama yang bisa dilihat dari penyematan label negatif ataupun stigma yang secara terbuka disampaikan untuk menjatuhkan (down grade) nama baik pesaingnya. Sebut saja bagaimana sempat marak stigma “janda bolong”. Yang dimaksud tentunya bukan kembang yang sedang fenomenal, tetapi disematkan kepada salah satu kandidat perempuan. Ejekan yang disampaikan secara terbuka di media sosial ini tentu berpotensi meregangkan ikatan persatuan yang telah lama terjalin baik di negeri ini. Bahkan jika dibiarkan akan berpotensi buruk terhadap pembangunan karakter bangsa yang beretika dan berbudaya santun.

Pihak yang diejek dan pendukungnya dapat menafsirkan tindakan tersebut sebagai sebentuk kekerasan media sosial dan pembunuhan karakter. Penulis bersyukur, kandidat yang didowngrade dengan stigma tersebut tidak membalas melakukan hal yang sama untuk menyebarkan “kekurangan pribadi” kandidat kompetitornya.

Beberapa hari belakangan ini kembali marak di media sosial rumor yang menyudutkan ketua Tim Koalisi salah satu Paslon di Pilgub Jambi 2020, yang juga merupakan pimpinan DPRD Provinsi Jambi. Secara terbuka dia dituduh telah melakukan “operasi kotor di Pilgub Jambi” dan “menilep” dana yang telah diberikan kandidat.

Penulis kembali bersyukur, politisi muda tersebut tidak menempuh jalur hukum, padahal itu dapat dilakukannya. Ketua Parpol itu hanya memberikan hak jawab di hadapan media. Dia membantah semua tuduhan dan rumor itu. Tegas dikatakannya, dia tidak pernah terlibat ataupun melakukan operasi kotor dalam pilgub Jambi, Ia tidak pernah bertemu dengan penyelenggara pemilukada dengan tujuan melakukan hal-hal inkonstitusional dan Ia tidak pernah mendapat dana atau anggaran apapun dari kandidat, justru Ia banyak menghabiskan anggaran pribadi untuk kerja-kerja pemenangan kandidat. Dengan santai dia menutup pembicaraan, “Banyak dapat fitnah, mungkin ini cara Allah untuk mengangkat derjat saya,” ucapnya tersenyum.

Setelah bantahan itu disampaikan sang politisi muda, dan banyak dimuat di berbagai media, beberapa hari kemudian, kembali ada buzzer menyampaikan fitnah yang sama di media sosial. Bagi penulis, ini adalah cerminan kurangnya kreatifitas buzzer, karena menyebarkan hoaks, informasi bohong, untuk menjatuhkan nama pesaingnya, demi meninggikan nama kandidatnya di mata masyarakat. Sekaligus hal ini juga dapat berakibat pada kemunduran demokrasi kita. Kalaulah si penuduh yakin bahwa tuduhannya benar, tentu lebih elok dan elegan dengan menempuh jalur hukum.

Di masa mendatang, idealnya tim sukses bisa lebih fokus untuk mensosialisasikan gagasan, visi, misi dan program kandidat yang mereka usung. Semua pihak seharusnya mampu menjaga etika dalam berpolitik, membangun sebuah opini ataupun isu negatif dapat tergolong menyampaikan hoaks, informasi bohong, dan melanggar UU ITE. Sekali lagi, hal ini dapat merusak kualitas demokrasi kita bahkan dapat merusak bangunan persatuan masyarakat kita.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk membela dan mendukung paslon manapun yang telah berkompetisi dalam Pilgub Jambi 2020. Tidak juga untuk merendahkan atau meninggikan nama salah satu Paslon. Tulisan ini hanya ingin menyampaikan pesan, bahwa cara berpolitik kita bangsa Indonesia, Jambi khususnya adalah cara berpolitik yang santun, ada fatsunnya, ada etikanya. Perilaku menghalalkan segala cara, termasuk menyebarkan berita bohong demi meraup suara dukungan politik harus segera kita tinggalkan, demi peningkatan kualitas demokrasi kita dan pelaksanaan pesta demokrasi yang aman, nyaman serta riang gembira.

Terakhir, ternyata tidak hanya kandidat ataupun politisi pendukungnya yang diterpa oleh isu negatif dan berita bohong. Salah satu partai politik besar dan tua di negeri ini juga kerap dihunjam dengan stigma dan label negatif yang tidak benar. Padahal  bangsa ini telah berkonsensus untuk memilih sistem demokrasi dengan partai politik untuk melakukan suksesi kekuasaan. Ini adalah jalan damai yang telah dipilih bangsa ini. Maka, jika kita ingin kualitas demokrasi kita baik, partai politik sebagai pilarnya juga harus baik. Untuk itu, mari kita dukung orang-orang baik untuk memperbaiki kualitas demokrasi kita, apapun partai politiknya, selama masih berideologi Pancasila.  

Untuk para buzzer jika tidak mau mendapat label preman politik, sudah seharusnya mengubah kebiasaan menggunakan kata-kata sarkastis yang menghujat, memfitnah, dan menyerang ranah privat lawan politiknya. Diganti dengan pilihan kata dan kalimat yang lebih asertif dan mengembangkan gaya bahasa euphisme dalam bertutur. Hilangkan kebiasaan "angel tenan tuturanmu". Salam.

 

*Penulis adalah Dosen Jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Jambi









loading...