Komunitas Rumah Menapo: Menjaga Candi, Merawat Toleransi



Senin, 03 Agustus 2020 - 20:51:54 WIB



JAMBERITA.COM –  Keberagaman menjadi topik yang paling sering dibahas dan diangkat dalam setiap momen. Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki keragaman mulai dari agama, suku, hingga ras.

Hanya saja, beberapa kali isu keberagaman ini menjadi soal sensitif dan memicu konflik hingga muncul pertumpahan darah. Beberapa daerah sudah mengalami hal itu seperti tragedi Poso, rasisme terhadap Papua, dan beberapa kejadian  lain yang bisa kita lihat jejak digitalnya.

Provinsi Jambi sendiri masuk dalam kategori keberagaman, terutama tentang agama. Bahkan, meski mayoritas penduduk muslim, Namun Negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini menyimpan aset terbesar untuk sebuah peninggalan tempat ibadah. Bahkan ribuan tahun lalu sempat mengalami kejayaan.

Tempat itu adalah Candi Muaro Jambi yang terletak di Desa Muara Jambi Kecamatan Maro Sebo Kabupaten Muaro Jambi. Tempat ibadah agama Budhha ini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara namun terletak di kawasan  muslim.

Cagar budaya ini sangat terjaga hingga saat ini.

Abdul Haviz menjadi salah satu orang yang terus menjaga dan merawat kearifan lokal yang dimiliki oleh Jambi. Saat ini sudah terbentuk sebuah komunitas yang sudah beranggotakan sekitar 50 orang. Pria yang akrab disapa dengan nama Ahok ini memiliki pengalaman yang  cukup panjang dalam  merawat hingga membuka pikiran masyarakat terhadap candi dan keberagaman.

Dalam ceritanya, Ahok menceritakan bahwa awalnya dirinya sendiri mulai menjaga dan ingin membuka mindset masyarakat sejak tahun 1998. Cara mengenalkan saat itupun menggunakan musik undergroud yang dibuatkan sebuah parade di kawasan candi. Ini juga dilakukan karena saat itu kawasan ini masih tertutup ditambah lagi masyarakat yang melihat orang luar seperti melihat musuh.

“Dari cara itulah awalnya bisa mulai sedikit-sedikit bisa mulai masuk ke masyarakat untuk pengenalan. Dengan akhirnya masyarakat ketika melihat orang luar datang, apalagi dengan gaya yang aneh tidak lagi seperti dulu. Namun memang sebelum itu, saya pribadi untuk memperjuangkan ini sangat berat. Mulai dari disebut orang gila hingga disebut murtad (pindah agama,red),” katanya kepada Jamberita.com, Kamis (30/7/2020).

Ahok melanjutkan, masyarakat sudah mulai terbuka dan  tidak lagi berpikiran aneh-aneh itu pada tahun 2012. Hampir 15 tahun dirinya dan juga teman-teman yang berpikiran sama untuk meyakinkan masyarakat terhadap candi dan kebaikan dalam bertoleransi. Sekarang ini dirinya dan teman-teman dalam komunitas tinggal terus menjaga dan mengajak masyarakat untuk tetap seperti ini.

“Dari awal sejak sebelum akhirnya sebebas ini memang sudah ada para teman-teman Buddha melakukan ritual dan sembahyang. Hanya saja memang sekedarnya saja dan itupun dikawal ketika mereka melakukan ritual. Karena mereka dulu takut untuk masuk kawasan candi karena kondisi msyarakat waktu itu masih tertutup. Tapi sekarang mereka sudah bebas untuk melakukan ritual keagamaannya  di candi,” ujarnya.

Hal ini juga dirinya dapatkan ketika belajar di pondok pesantren. Disana Ia diajarkan untuk bertoleransi terhadap agama apapun. Tidak ada sedikitpun ajaran yang diberikan untuk membenci sesama, karena mereka tetaplah saudara setanah air. Dengan itu semuanya bisa tenang dalam menjalankan  keyakinan masing-masing dan terus bisa merasakan kedamaian.

"Buktinya sangat nyata ketika perayaan waisak saat itu. Pernah waisak bertepatan dengan pelaksanaan ibadah  puasa. Semuanya dikomunikasikan dengan baik dari pihak Buddha dengan alim ulama dan pemerintah desa. Semuanya berjalan dengan baik dan tidak ada masalah. Pemerintah dan masyarakat mendukung itu  semua dengan semua ketentuan yang sudah disepakati,” katanya.

Mulai Tertarik Pelestarian Candi

Ahok menyebutkan dirinya mulai tertarik dengan candi itu murni awalnya karena faktor ekonomi. Saat itu, dirinya masih bekerja serabutan ditambah kondisi krisis.

Ia sering termenung di dekat kawasan candi dan terpikirlah bahwa candi ini bisa membawa manfaat. Hanya saja memang waktu itu untuk memulai dari mana itu belum mengerti. Akhirnya untuk itu mulai belajar sendiri dari baca buku yang ada disekolah dan juga ikut para arkeolog hingga para dosen melakukan penelitian. Dari sana juga banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang didapat hingga cerita sebenarnya.

“Saya sampai dikasih buku sama salah satu Profesor yang melaksanakan penelitian disana. Dari sanalah mulai mengumpulkan semua data tentang candi dan akhirnya  berhasil untuk terbitkan buku. Hasilnya sendiri untuk komunitas dan perawatan kawasan candi,” sebutnya.

Selain itu juga karena ketertarikan dan kecintaan terhadap candi, para teman-teman dari Buddha bersepakat untuk membiayai kuliahnya. Ini juga dimaksudkan untuk bisa lebih  meningkatkan  pengetahuan tentang candi dan bisa lebih lagi dalam mengedukasi masyarakat terhadap pentingnya merawat peninggalan sejarah ini.

Candi ini sangat terawat karena waktu  dulu masyarakat sekitar sangat percaya dengan mitos. Makanya hingga saat ini candi masih sangat terawat dan tidak  ada kerusakan. "Di daerah jawa sendiri untuk yang beginian pasti hilang dicuri untuk diperjualbelikan," kata Ahok.

Terbentuknya Komunitas Rumah Menapo

Ahok yang merupakan salah satu penggagas komunitas ini ketika berbincang mengatakan bahwa komunitas ini terbentuk pada tahun 2004. Pada tahun 2006, terbentuk komunitas dengan nama Balai Kreasi Pemuda Candi Muaro Jambi (BKPCMJ). Karena saat itu baru berorganisasi, banyak masalah yang muncul diantara para anggota organisasi yang menyebabkan akhirnya ganti format dan terpecah-pecah. Kejadian ini pada tahun 2008 dengan terbentuknya beberapa komunitas seperti Dwalapala, Saramuja, dan beberapa organisasi lain yang fokus pada tujuan  masing-masing.

“Berjalan lama seperti ini tidak ada membuahkan hasil  dan titik temu. Akhirnya pada 2011 mulai terpikir bahwa ketika kondisinya terus seperti ini tidak akan berujung baik. Dengan itu semua akhirnya semuanya kembali bergabung akan tetapi tetap dengan dengan tujuang masing-masing,” jabarnya.

Lewat itu semua, akhirnya disepakati nama organisasi yang menaungi semua bentuk komunitas yang ada adalah Fatmasana. Fatmasana inilah menjadi payung besar yang mengayomi seluruh organisasi yang tadi sempat terpecah. Hanya saja ini semua tidak berjalan baik ketika kepengurusan organisasi. Hal ini dikarenakan nama Fatmasana terdapat sentimen agama yang ditolak namanya oleh Kemenkumham. Karena ditolak itulah akan komunitas ini akhirnya berubah  menjadi Rumah Menapo.

“Tetap organisasi yang ada itu fokus pada tujuan masing-masing, seperti pemberdayaan masyarakat, pendidikan, lingkungan. Dengan itu semua tujuannya adalah menciptakan kader baru untuk meneruskan ini semua. Rumah Menapo sendiri ada 30 orang anggota komunitas yang bergabung saat pertama dibentuk,” sebutnya.

Anggota komunitas sendiri merupakan warga desa Muara Jambi. Hanya satu orang saja yang berasal dari luar desa. Sampai saat ini tidak ada lagi organisasi maupun komunitas lain yang masuk untuk merawat candi. Sebelumnya memang ada organisasi yang masuk, hanya saja memang itu semua tujuannya tidaklah berbicara tentang pelestarian, melainkan tujuan lain yang orientasinya terhadap uang.

Dalam merawat cagar budaya seperti ini, jangan punya niatan lain dan harus ikhlas. Yang  pasti semua kepentingan dan perawatan candi serta membantu teman-teman Buddha disini adalah komunitas ini saja. Tetapi dirinya dan komunitas tidak menutup diri kepada masyarakat yang ingin membantu.

Merawat Keberagaman Menjamin Keamanan

Redho Saputra selaku Ketua Karang Taruna Desa Muara Jambi mengatakan, masyarakat sangat mendukung terhadap kegiatan yang dilakukan oleh teman-teman Buddha terutama para kaum muda yang ada. Dirinya dan seluruh masyarakat sangat menjaga dan memastikan toleransi itu terus ada dikawasan candi dan masyarakat karena sudah terbiasa dengan yang seperti ini.

“Yang membuat semuanya aman adalah masyarakat berpikiran terhadap kegiatan umat Buddha ini adalah bagimu agamamu bagiku agamaku. Aktivitas masyarakat tetap berjalan seperti biasannya dan tidak mengganggu proses beribadah umat Buddha. Seluruh warga sangat menjunjung tinggi toleransi beragama disamping menjaga candi yang merupakan cagar budaya serta aset wisata,” ujarnya.

Memang ada terjadi waktu itu penolakan dan demonstrasi karena kejadian Rohingya saat itu, hanya saja itu semua tidak dilakukan oleh warga Desa Muara Jambi. Masyarakat yang punya jiwa sosial tinggi sendiri tidak mendukung yang seperti ini. Dirinya tidak menjamin semua masyarakat berpikiran seperti itu, hanya saja tidak pernah sampai akhirnya menolak kedatangan dan sampai mengganggu proses ibadah teman-teman Buddha.

Ketua Perkumpulan Umat Buddha Jambi Rudy Zhang menceritakan bahwa pertama kali dirinya mengetahui Candi Muaro Jambi dan asal usulnya ketika diberitahu oleh guru. Setelah mengetahui langsung melakukan meditasi selama seminggu saat itu. Karena masih berada di Jakarta, keputusan untuk kembali ke Jambi saat itu guru juga berpesan untuk merawat Candi Muara Jambi. Untuk pelaksanaan waisak bersama itu sejak tahun 2017. Itu semua didukung oleh masyarakat yang ada disekitar candi.

“Hingga saat ini dirinya secara pribadi merasa tidak ada penolakan sama sekali, malahan semuanya mendukung dan terbuka. Intinya saling menghormati dan menghargai sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Akan tetapi tidak tahu jika memang terjadi penolakan di internal masyarakat,” katanya.

Pihaknya juga selalu komunikasi jika ingin melakukan kegiatan. Pihaknya tahu batasan-batasan untuk menjaga diri dan melihat kondisi. Selain itu, pihaknya menghargai karena masyarakat yang ada dikawasan candi merupakan anak cucu dari guru-guru sebelumnya. Karena semua guru-guru dahulu adalah asli orang Indonesia. Pastinya faham dengan kondisi warisan budaya dan sangat menghormati agama lain. Sama-sama menjaga dan merawat kebersamaan itulah yang dirasakan saat ini didalam kawasan candi dan masyarakat sekitar.(M Amin Khudori)









loading...