Kasus baru Covid-19 semakin Bertambah Pasca New Normal



Rabu, 24 Juni 2020 - 11:26:26 WIB



Maretika Handrayani,S.P
Maretika Handrayani,S.P

Oleh: Maretika Handrayani,S.P*

 

Hampir tiga bulan rakyat Indonesia dikepung pandemi Covid-19 pasca pengumuman resmi kasus terdampak covid-19 pada bulan Maret lalu. Namun melandainya grafik pasien terdampak Covid-19 belum juga menampakkan tanda-tandanya. Tidak hanya di Indonesia, nasib serupa juga dialami rakyat di negara-negara lain yang bahkan harus berhadapan dengan serangan pandemi gelombang kedua usai melewati serangan pandemi pertamanya.

Dunia terpukul dihadapkan dengan realita hilangnya jutaan nyawa manusia yang terjangkit Covid-19 hingga lumpuhnya perekonomian mereka. Diikuti dengan melonjaknya angka pengangguran pasca badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Dampaknya, kemiskinan dan kelaparan semakin mendera sebagian rakyat dunia. Bahkan di negara adidaya, AS sekalipun tak luput dari persoalan ini.

Mirisnya, alih-alih menyelesaikan persoalan pandemi hingga ke akarnya. PBB melalui lembaga kesehatan dunia (WHO) menyerukan kebijakan New Normal bagi seluruh negara-negara di dunia demi berjalannya roda perekonomian korporasi global. New Normal dimaknai bahwa rakyat harus berdamai dengan virus Corona dan menjalankan aktivitas biasa layaknya dalam kehidupan normal meski virus ini telah menginfeksi jutaan orang di dunia.

/Kapitalisme Menghilangkan Nilai Nyawa Manusia/

Tatanan dunia hari ini sungguh tidak memberi nilai pada nyawa manusia. Meski penolakan datang dari banyak pakar kesehatan, Virologi, dan Epidemiologi dari berbagai negara, kebijakan New normal tetap dijalankan. Tak ketinggalan, Indonesia ikut latah mengikuti arahan New Normal yang berbahaya tersebut.

Bak menantang badai, pasca New Normal diberlakukan diberbagai daerah, kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Penambahan itu menyebabkan total ada 45.029 kasus Covid-19 di Indonesia terhitung sejak pengumuman resmi pertama. Menyebut bahwa agresivitas pengecekan terdampak covid-19 adalah sebab melonjaknya kasus Covid-19 hingga mencapai 1000 kasus terlemahkan, terutama dengan paparan para pakar kesehatan, bahwa dengan jumlah kasus covid-19 yang masih terbilang tinggi maka penerapan new normal beresiko tinggi terhadap makin masifnya penyebaran virus corona. Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menyebutkan bahwa pemerintah telah bersikap gegabah dalam membuka kembali sembilan sektor ekonomi dan penerapan AKB hingga menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.(Bisnis.com/21/06/2020).

Para pakar kesehatan dengan kapasitas keilmuannya tentu sangat memahami bahwa New Normal adalah kebijakan yang dipaksakan, jauh dari solusi menyelesaikan persoalan pandemi bahkan membahayakan nyawa rakyat. Berikut tenaga kesehatan yang telah berjibaku berada di garda terdepan dalam penanggulangan dan pemberantasan Covid-19 hingga mempertaruhkan nyawa dalam pengabdian ini. Maka sangat ironis bila peran dan suara mereka diabaikan begitu saja. Namun begitulah wajah asli tatanan sistem yang memisahkan agama dari kehidupan bernegara (sekuler), egosentris menyelamatkan perekonomian korporasi adalah proyek yang harus diutamakan dibanding upaya riil penyelamatan nyawa manusia dan memberi kesejahteraan atasnya.

/Sistem Islam Solusi Hakiki/

Segala bahaya yang menimpa rakyat serta problematika yang berkelindan ini tentu memunculkan satu pertanyaan besar di benak kita, adakah solusi ampuh yang dapat menyelamatkan rakyat saat sistem bernegara hari ini telah terbukti gagal mengatasi pandemi, gagal menyelamatkan nyawa manusia, dan gagal memberi kesejahteraan?

Jawabannya tentu ada, yakni dengan penerapan syari’at Islam yang telah terbukti mampu mengangkat harkat dan martabat manusia baik muslim maupun non muslim yang hidup dalam naungan Khilafah. Tertulis dalam tinta sejarah, selama 13 abad lamanya sistem Islam menaungi dua per tiga belahan dunia dan menjadi satu-satunya sistem kehidupan dan bernegara yang telah terbukti mampu memuliakan manusia, memberikan kesejahteraan, dan menyelesaikan persoalan wabah dengan baik dan tepat.

Di dalam Islam, kehidupan manusia tidak memiliki label harga, melainkan dipandang tak ternilai; dan menyelamatkan satu orang sama besarnya dengan menyelamatkan seluruh umat manusia. Allah SWT berfirman:“Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” [QS. Al-Maidah: 32]

Strategi efektif yang dilakukan sistem Islam untuk menghentikan wabah yaitu dengan Isolasi wilayah yang terkena wabah/pandemi, Juga dengan  3T (trace, test, and treat/lacak, uji dan obat), Negara harus memfasilitasi kebutuhan hidupnya mencakup pangan, sandang, papan, jaminan kesehatan dan keamanan juga diberikan kepada seluruh warga negara sehingga kemiskinan dan kelaparan dapat diselesaikan. 

Sebagaimana saat wabah hadir di masa Rasulullah SAW, beliau memerintahkan untuk mengisolasi wilayah terdampak dan orang-orang yang tertular wabah. Rasulullah saw bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya kepala negara dalam Islam memiliki tanggungjawab yang besar dalam melindungi rakyatnya. Ia akan tulus menjalani peran kepemimpinannya melayani rakyat, bukan menjadi pedagang yang menjadikan standar untung rugi atas rakyatnya layaknya di dalam negara sekuler kapitalis. Kelesuan ekonomi yang dialami pelaku ekonomi raksasa atau kapitalis tidak menjadi pendorong kuat hingga memberlakukan new normal dengan risiko mengorbankan keselamatan jiwa masyarakat luas.

Seorang kepala negara dalam Islam pula memiliki karakter sebagai Qiyadah mubdi’ah, kepemimpinan yang aktif dan inivatif, dimana kecanggihan teknologi dan penelitian gencar dilakukan demi ditemukan formula pengobatan jitu yang dapat menyembuhkan. Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Imam adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

/Khatimah/

Sesungguhnya Covid 19 hanyalah penyingkap dan pengungkap kegagalan sistem sekuler kapitalisme. Dunia harus mengakui secara fair bahwa sistem kapitalisme ini tidak didesign untuk cakap menghadapi wabah bahkan pandemi. Maka tidak ada sistem yang lebih tepat untuk umat manusia daripada sistem Islam yang direpresentasikan dalam daulah al-Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian, yang akan menjadi rahmat bagi dunia dan menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan.

 “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (TQS al-Baqarah: 257). Allahu a’lam bisshawab.(*)

 

Penunulis adalah: Aktivis Dakwah Islam*







loading...