1.642 Kendaraan dari Beberapa Daerah ke Jambi Putar Balik



Kamis, 28 Mei 2020 - 17:24:54 WIB



Ilustrasi
Ilustrasi

JAMBERITA.COM- Dari Bulan Ramdhan sampai dengan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah, ribuan kendaraan dari Pulau Jawa dilarang masuk ke wilayah Provinsi Jambi.

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Provinsi Jambi Varial Adhi Putra menyampaikan ada sekitar 1.642 kendaraan yang sudah diperitahkan putar balik.

Adapun sebagian besar kendaraa yang diminta putar balik adalah kendaraan roda empat (Pribadi) yang berasal dari pulau Jawa.

Selain pulau Jawa kendaraan yang putar balik juga berasal dari Jakarta, Pekanbaru dan Sumbar. "Orang ini paling banyak kita dapati di Posko perbatasan Mestong dan Sarolangun yang berbatasan dengan Sumatera Selatan, dan Posko di Bungo yang berbatasan dengan Sumatera Barat," katanya, Rabu (27/5/2020).

Secara rinci, mobil pribadi yang putar balik itu sebanyak 1.010, sedangkan kendaraan roda dua ada 443 dan bus sebanyak 189 serta jumlah lainnya 15 orang yang disuruh putar balik lewat pelabuhan Roro Tanjab Barat (Tanjabbar).

"Ini rekapan data terakhir kita dari 24 April sampai 19 Mei, untuk data terbaru hingga kini belum direkap," ujarnya.

Alasan masih banyaknya kendaraan yang nekat masuk ke Jambi itu, kata Varial karena kendaraan sebelumnya bisa lolos dari pengawasan di posko Provinsi lain. "Ini karena kendaraan intip-intipan dengan petugas baik di Jawa dan Sumatera, mungkin lolos di satu posko tapi tak lolos di Jambi," terangnya.

Untuk sanksi lain seperti penilangan kata Varial tidak ada, karena dengan penilangan nantinya logikanya bus tersebut masih bisa jalan, untuk itu ditetapkan aturan putar balik. "Putar balik kita lakukan, seperti kemarin ada juga bus dari Medan yang mau ke pulau jawa, kita suruh putar balik, tak ada alasan lewat," jelasnya.

Lebih lanjut Varial juga mengatakan bahwa selain bus AKAP, pihaknya juga mendapati travel gelap yang nekat melintas yang juga diputar balik. Sementara untuk syarat kendaraan boleh melintasi perbatasan, menurut Varial harus melengkapi beberapa persyaratan.

"Seperti sudah cek kesehatan, dan alasan yang sangat penting seperti dinas yang dilengkapi surat keterangan resmi atau adanya keluarga meninggal, namun untuk protokol kesehatan tetap harus diperhatikan," pungkasnya.(afm)







loading...