Lebih Murah, Rokok Ilegal Berbagai Merek Masih Ditemukan Beredar di Tanjabbar



Minggu, 12 Januari 2020 - 17:30:02 WIB



JAMBERITA.COM - Peredaran rokok ilegal di Tanjab Barat masih marak. Ribuan bungkus rokok ilegal tanpa pita cukai yang berhasil diamankan petugas TNI AL belum lama ini, rupanya tidak memberi efek jera.

Faktanya, rokok dengan jenis filter tersebut masih beredar di sejumlah wilayah dalam Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

‎Berdasarkan informasi yang diperoleh, harga jual dari berbagai merek rokok ilegal yang dipasok dari Batam melalui jalur laut ini berkisar antara Rp 9.000 hingga 10.000 perbungkus.

Dari penelusuran, pemilik warung kelontong di Jalan Lintas Jambi - Kuala Tungkal, mengaku pernah didatangi orang yang tidak dikenal.‎ Orang tersebut menawarkan beberapa merek rokok tanpa pita Cukai tersebut. Diantaranya merek luffman. Namun, karena merasa kuatir, tawaran tersebut ditolak.

"Rokok dari Batam. Murah bang. Ada merek Luffman, H Mild,UP Next Revolution dan lainnya," beber pemilik warung yang enggan namanya disebutkan, kepada awak media, Minggu (12/1/20).

Larisnya rokok ilegal itu dengan alasan harganya yang murah jika dibanding dengan rokok resmi berpita cukai. Seperti diuatarakan salah seorang petani yang mengaku kerap membeli rokok tanpa cukai tersebut.

"Walau ya beda harga beda pula rasanya. Tapi kan biar irit, makanya beli rokok yang murah," ujar warga Desa Mandala Jaya itu.

Menanggapi hal ini, dikonfirmasi wartawan, Kepala Diskoperindag Tanjab Barat Syafriwan memastikan jika rokok tanpa pita cukai tersebut adalah barang dagang ilegal.

Hanya saja, kata Syafriwan hingga kini pihaknya belum pernah mendapatkan bukti rokok ilegal diperjual belikan.

''Ini susahnya, jika kami punya bukti. Itu makanya teman-teman pers sering saya tawarkan. Setiap produk barang ilegal itu selalu kita dokumentasikan. Hasil temuan itu lah yang kita laporkan dan tindak lanjutkan ke Provinsi. Supaya nanti provinsi bisa mengambil tindakan," ujar Kadiskoperindag.

"‎Kalau hanya cerita dari mulut ke mulut saja kami susah. Mau nyari barang bukti saja susah. Apa lagi kalau sudah masuk kantong konsumen. Kita berharap ada kerja sama dalam hal kontrol dan pengawasan," pungkasnya. (Henky)












loading...