Munas Golkar: Rebound, Menyongsong Pemilu 2024?



Selasa, 03 Desember 2019 - 07:02:05 WIB



Oleh Antony Zeidra Abidin*

TAK Sulit dipahami, siapapun yang terpilih jadi ketua umum pada Munas Golkar 3-5 Desember 2019, bakal menjadi putra mahkota partai beringin rindang ini pada Pemilu 5 tahun mendatang. Berpotensi jadi calon presiden atau calon wakil presiden. Bagaimana prospeknya?

Pertama-tama tentulah harus dipastikan dulu munas akan berjalan lancar. Siapapun yang terpilih, tidak akan menimbulkan kegaduhan atau bahkan perpecahan. Yang kalah legowo menerima kekalahnnya. Yang menang mengakomodir yang kalah. Dalam hal ini bisa belajar dari Jokowi yang menempatkan Prabowo dan orangnya dalam kabinet.

Jika itu tercapai: Konsolidasi bakal mulus. Kaderisasi lancar. Manajemen partai digerakkan secara profesional dengan aturan main yang jelas tentunya, demokratis dan selalu berpedoman pada konstitusi partai antara lain AD/ART. Mesin partai akan prima, siap bertanding untuk segala cuaca.

Sebagai partai besar dengan sejarah panjang, berbagai c  uaca sudah pernah dialami. Golkar memiliki modal politik yang sangat kuat. Fundamental politiknya pada dasarnya sangat kokoh, dengan kader2 yang profesional dan tangguh. Ditopang konstituen dan pendukung yang loyal, tersebar di.berbagai lapisan dan wilayah Indonesia.

Ketika Suharto jatuh, banyak orang menduga dan sebagian bahkan berharap, “the ruling party”  yang memenangkan terus menerus pemilu sejak 1971 ini akan turut tumbang dan punah. Pemilu 1999 Golkar rame-rame dijegal. Dihalang- halangi massa bringas. Di Semarang, panggung sampai roboh. Ada juga kaum ibu yang dipaksa melepas kaos kuningnya sehi ngga yang tinggal hanya beha.

Akbar Tandjungn (AT) dan istri, dilarikan dengan naik truk ketika diseruduk massa bringas. Bukan hanya Ketua Umum Golkar, tapi hampir seluruh kader Golkar ketika itu digangu. Dihadang menuju tempat kampanye. Di ganggu panggung kampanyenya. Terjadi di daerah bahkan juga di ibukota, Jakarta.

Agung Laksono, salah seorang ketua DPP Golkar ketika itu, kesulitan mengumpulkan massa ketika berkampanye di Lapangan Pacuan Kuda Pulo Mas, Jakarta. Karena banyak.kader berseragam  Golkar diganggu dalam perjalanan. Namun kader militan, maju tak gentar.

Walhasil, Golkar tak bisa dikubur seperti teriakan Amin Rais dalam kampanyenya waktu itu. “Golkar akan kita lipat-lipat, diinjak-injak, kemudian dikubur dalam-dalam,” ucapnya berapi- api. Golkar menjadi pemenang kedua. Tak ada yang dapat menginjak-injak apalagi mengubur Golkar. Mengapa?

Pertama- tama, tentulah itu kehendak Tuhan YME. Kedua, Golkar adalah partai kader. Tersebar di tingkat pusat, sampai ke propinsi, kabupaten/kota, korcam dan kordes. Ada jutaan kader militan dan puluhan juta simpatisan yang tetap setia. Merekalah pembela dan penyelamat partai.

Tak cukup sampai di sana. Setelah Gus terpilih jadi presiden, ketika Partai Golkar mulai bersikap kritis, serangan balik yang lebih brutal terjadi. Mulai dari demo-demo dan serbuan ke kantor DPP Golkar yang menuntut pembubaran PG, hingga pengrusakan kantor-kantor DPD Golkar di berbagai daerah. Paling tragis, pembakaran kantor DPD Golkar Jawa Timur.

Ketika saya mengunjungi kantor Golkar Jatim itu, didampingi ketuanya Ridwan Hisyam, gedung megah tersebut sudah rata dengan tanah. Jadi abu, di atasnya bergeletakan puing2 hitam sisa kebakaran. Puncaknya adalah Dekrit Presiden Abdulracman Wahid pembubaran Parlemen dan Partai Golkar.

Namun, maksud hati hendak menghancurkan Golkar, apa daya Gus Dus pada hari itu juga – 23 Juli 2001 – melalui sidang istimewa MPR.

Jadi, Golkar betul-betul sudah teruji dalam menghadapi tekanan politik. Bagaimana pun keras dan beratnya. Dengan cara-cara demokratis melalui pemilu. Maupun dengan palu kekuasaan berbentuk dekrit.

Pukulan telak pembubaran Golkar, menjadikan partai berlambang pohon beringin ini semakin kuat. Lebih terkonsolidasi. Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung, setiap akhir pekan mengisi waktu liburnya berkeliling Indonesia. Seluruh kader termotivasi. Dengan slogan “Bersatu untuk Maju”, mesin partai bergerak kencang. Hasilnya, pada pemilu 2004 Golkar menjadi pemenang pemilu, dengan perolehan lebih dari 24 juta (22,44%). Perolehan kursi Golkar 129, berada pada puncaknya sepanjang era reformasi. Pemilu 2009 terjun bebas menjadi di bawah separuhnya: 106 kursi DPR RI.

Pemilu 2014 turun lagi di bawah angka 100, menjadi 91. Menjelang pemilu 2019, Katua Umum Golkar menjadi tersangka kasus e-KTP. Beberapa lembaga survai dan.pengamat memprediksi perolehan suara Golkar amblas ke satu digit. Tetapi yang terjadi Golkar survive. Dapat 12,31%. Kondisi ini mirip dengan pemilu 1999, Golkar yang diperkirakan hancur lebur, toh masih bisa bertengger di posisi nomor 2.

Itu pertanda rebaund pada tahun 2024, setelah 20 tahun menggelinding ke dasar. Siklus itu kini sedang berproses setelah berakhirnya periode kedua presiden Jokowi. Periode keemasan PDIP ditilikdari teori siklus, akan amblas. Nasibnya mungkin sama dengan Partai Demokrat pasca SBY.

Dapatkah Golkar memanfaatkan momentum ini untuk rebound pada pemilu mendatang dan menjadikan kadernya capres pada pemilu 2024 nanti? Jawabannya ada pada hasil Munas yang berlangsung hari. Akan memilih siapa dan strategi politik secanggih apa sebagai produk Munas.

*Penulis adalah Wakil Kerua Depastemen Humas dan Media Massa DPP Golkar 1998-2004.










loading...