Post Power Syndrom: Itulah Karakter Anda



Senin, 02 Desember 2019 - 08:29:56 WIB



Oleh: Bahren Nurdin

Tidak diberi jabatan, lantas uring-uringan, marah ke semua orang, kecewa, prustasi, dan membenci!

Abraham Lincoln pernah betkata, “Jika Anda ingin menguji karakter seseorang, beri dia kekuasaan”. Saya ingin menambahkan, “beri ia kekuasaan dan lihat pula saat ia kehilangan jabatan”. Itulah karakternya.

Pada point tambahan itu, saya ingin menanggapi fenomena-penomena perebutan dan peralihan kekuasaan di berbagai level kepemimpinan baik di organisasi formal maupun non formal. Faktanya, tidak sedikit orang yang menunjukkan karakter ‘aslinya’ saat kehilangan jabatan. Tidak terima ‘di-nonjob-kan’, mereka kemudian mencoba untuk melakukan banyak hal yang sesungguhnya tidak mencerminkan kebesaran hati seorang pemimpin. Tidak legowo!

Banyak sekali para mantan pejabat yang kemudian kehilangan semangat kerja dan bahkan berhenti berkarya, dan lebih menyedihkan lagi mencari-cari kesalahan orang lain. Mengancam membongkar aib ini dan itu. Artinya, setelah kehilangan jabatan banyak di antara mereka yang stress dan tidak terima. Tidak semua, tapi terjadi.

Banyak pula diantara mereka yang tidak memahami bahwa jabatan yang diemban itu pada masanya pasti akan dipertukarkan kepada orang lain. Jabatan itu amanah yang tidak kekal. Orang lain juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan jabatan tersebut. Kesadaran inilah yang terkadang hilang dan ketika jabatan itu hilang dari dirinya, mereka merasa dunia seakan-akan sudah ‘kiamat’.

Hal ini sebenarnya disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, serangan post power syndrome (penyakit kehilangan kekuasaan). Penyakit ini adalah penyakit yang paling banyak menyerang para pejabat yang di-non-jobkan’. Banyak diantara mereka yang tidak siap. Jika selama ini memiliki kekuasaan untuk ‘menguasai’ orang lain, tiba-tiba kekuasaan itu hilang dan kehilangan tenaga tak berdaya. Dalam kondisi seperti ini biasanya mereka merasakan dirinya ‘tidak dianggap’dan tak berguna.

Jika selama ini bisa memberikan perintah kepada orang lain, tiba-tiba tidak ada lagi orang yang mau menuruti perintahnya. Bahkan, tidak jarang dia kemudian yang diperintah oleh orang yang selama ini dia perintah. Pasti banyak yang tidak siap mental. Tapi itulah dinamika organisasi. Dalam dunia kepemimpinan kita sudah mengenal istilah ‘siap diperintah dan siap memberi perintah’, siap dipimpin dan siap memimpin’.

Mudah memang untuk diucapkan tapi sulit untuk dilaksanakan di lapangan. Faktanya, manusia lebih suka memerintah dari pada diperintah. Maka dari itu, hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pemahaman yang mendalam akan tugas dan fungsinya sebagai abdi negara. Dia kemudian tidak menjadikan jabatan satu-satunya cara untuk memberikan yang terbaik untuk negeri ini.

Kedua, kinerja. Apa yang dikerjakan selama ia menjabat sangat menentukan sikapnya ketika tidak lagi berkuasa. Jika selama menjabat ia benar-benar menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik sehingga memiliki kinerja yang baik pula, maka ketika jabatan itu tidak lagi pada dirinya, dia tidak akan merasa kecewa. Selama menjabat ia sudah memberikan segala kemampuan yang ia miliki untuk memberikan yang terbaik untuk organisasi atau instansinya, maka tidak ada rasa patah semangat ketika tidak menjabat.

Namun jika selama ia menjabat hidupnya dipenuhi intrik dan minus prestasi, maka ia akan menjadikan jabatan itu satu-satunya penentu kualitas dirinya. Dia hanya bisa menggunakan jabatan sebagai satu-satunya ‘senjata’ untuk menguasai orang lain. Maka ketika jabatan itu hilang, ia akan kehilangan kekuatan dan lemah tak berdaya (hopeless). Tidak jarang, orang yang selama ini menjadi ‘bawahannya’ akan berubah menjadi musuh.

Ketiga, hubungan kerja (human relation). Jika selama ia menjabat memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitarnya, baik bawahannya maupun atasannya, maka ketika jabatan direnggut dari tangannya, ia tidak akan merasa sedih. Dia tidak serta merta kehilangan kehoramatan dari orang-orang yang pernah dipimpinnya. Dia tidak kehilangan wibawa dan karisma. Dia tetap dihormati walau sudah tidak lagi memegang jabatan.

Hal ini akan berbeda jika hubungan antar manusia yang selama ia menjabat tidak dijaga dengan baik, maka ketika tidak lagi menjabat ia akan menjadi manusia ‘aneh’. Orang-orang tiba-tiba tidak menyukainya. Orang tiba-tiba menjauh, kehilangan simpati, dan cenderung membenci. Mantan pejabat semacam inilah sering ‘stres’ ketika kehilangan jabatan.

Akhirnya, hal-hal tersebut di atas bisa terjadi terhadap siapa saja. Dan respon anda terhadap situasi ini adalah gambaran utuh siapa anda. Positif atau negatif, itulah yang orang lihat tentang diri anda. Ingatlah, jabatan hanyalah amanah yang sangat dinamis. seharusnya, para mantan pejabat yang ‘dipinggirkan’ tidak perlu sedih dan tetaplah berkarya. tidak perlu pula 'uring-uringan'. Jika ada sikap selama menjabat yang tidak baik pada orang lain, masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Ingat, tidak menjabat bukan berarti berhenti berkarya. Jangan Stress dan tidak perlu mecari borok orang lain! Semoga.

*Akademisi UIN STS Jambi.










loading...