Jurnalisme Damai di Fesmed 2019: Jangan Memperuncing Konflik



Minggu, 17 November 2019 - 22:04:10 WIB



JAMBERITA.COM- Pemberitaan-pemberitaan tentang papua membuat media harus lebih hati-hati. Jurnalisme damai harus diterapkan agar tak memperuncing konflik.

Sunudyantoro jurnalis dari Tempo mengatakan dampak dari pemberitaan harus dipikirkan matang, agar pemberitaan tidak menimbulkan ekskalasi konflik lebih berat.

"Jurnalisme damai harus meliput masyarakat atau narasumber yang terlibat langsung dengan peristiwa. Untuk memverifikasi fakta yang ada di Papua, kita harus memiliki khusus" katanya, pada Minggu (17/11).

Sunu mengambil satu contoh kasus.

"Ada beberapa kasus stunting di Asmat, namun terbentur sumber-sumber resmi negara seperti polisi dan tentara. Ini problem utama meliput isu papua," katanya.

Sunu mengatakan isu Papua harus ditulis secara cover bothside terutama kasus konflik seperti di Wamena dan Nduga.

"Negara memiliki cara pandang kepada Papua adalah gerakan separatis, bukan persoalan kemanusiaan atau human rights, ekonomi, pendidkan dan kesehatan. Sentimen nasionalisme yang dicekoki kepada publik apabila bicara soal Papua," ungkapnya.

Syofriardi Bachyul dari Jakarta Post mengatakan kejadian Wamena terkait pembantaian suku minang, itu murni demo siswa terkait ucapan rasis SMA PGRI.

"Tidak terkait dengan OPM atau gerakan separatis. Sementara polisi hanya merilis nama-nama orang yang terbunuh, tidak ada alamat dan identitas dan bagaimana orang Papua terbunuh. Ini terjadi terus di Papua. Ada apa dengan negara," ungkapnya.

"Guru mengajar di SMA PGRI, anak dari asli Papua, saat disuruh membaca tidak bisa, dibilang seperti monyet. Hal ini membuat keributan di sekolah. Pendatang hanya menjadi sasaran kemarahan masa. Masyarakat setempat terdiri dari pendeta dan tokoh-tokoh serta kepala adat menyelamatkan pendatang dari amukan masa," katanya.

"Ada daftar orang Papua meninggal tapi tidak dicatat polisi dan sejumlah sekolah belum buka," ungkapnya.

Ahadian Utama dari Voice of America (VoA) Indonesia mengatakan intinya jurnalis harus mempertimbangkan dampak pemberitaan.

"Jangan sampai memperuncing konflik,"ungkapnya.(*/sm)












loading...








TP PKK Tanjabbar Gelar Rakor Tahun 2019

TP PKK Tanjabbar Gelar Rakor Tahun 2019

Jumat, 06/12/2019 16:34:40