Habibie- Sang Teknokrat Nasionalisme



Rabu, 11 September 2019 - 19:22:27 WIB



Oleh: Musri Nauli*

Mendapatkan kabar meninggalnya BJ Habibie (Habibie) disaat issu hoax yang sempat menghangat, merupakan pukulan bagi Bangsa Indonesia. Seorang Teknokrat yang nasionalisme. Seorang ilmuwan yang karyanya hingga sekarang masih dipakai

Mengingat Habibie di awal reformasi, adalah sosok penting “orang cerdas” yang IQ diatas rata-rata. Masih ingat Lagu Iwan Fals, yang dikutipnya “pintar seperti Habibie”. Sebuah ingatan yang paling melekat di ingatan masyarakat Indonesia.

Masih ingat teori crash yang mampu dipecahkan disirip pesawat sebagai penyebab kecelakaan. Dengan kecerdasannya, teori ini dipecahkan sehingga kita naik pesawat tenang dan khawatir tidak terjadi lagi kecelakaan. Teori yang dipakai disetiap pembuatan pesawat terbang dunia.

Namun yang paling ingat dari penulis adalah ketika teori ekonomi sempat memantik diskusi awal tahun 1990-an. Teori Habibieconomics yang kemudian dipersoalkan dan dianggap sebagai “high teknologi” yang kurang sesuai di Indonesia. Tuduhan serius adalah Indonesia “Butuh” handtracktor bukan pesawat terbang. Ditambah kemudian pesawat diganti dengan beras ketan dari Thailand. Teori Habibieconomics kemudian memantik diskusi panjang di kalangan ekonomi.

Pada tahun 1996, ketika BJ Habibie melauncing pesawat terbang N250 yang kemudian menjadi prototype yang terus menjadi mimpi Habibie kemudian “dihancurkan” IMF. IMF kemudian meminta agar proyek yang digagas Habibie harus dihentikan. Selain dianggap menggunakan keuangan negara yang besar, Ide Habibi membangun pesawat belum menjadi kebutuhan Indonesia.

Pelan tapi pasti. Kebutuhan pesawat di Indonesia terutama sebagai jalur perintis menghubungkan pulau-pulau Indonesia semakin terbukti. Masih ingat ketika Lion membeli pesawat Boeing dan Airbus yang ratusan buah.

Apabila Ide Habibie yang kemudian dilanjutkan, Indonesia mempunyai pesawat sendiri, maka dibayangkan betapa besar devisi Indonesia yang berhasil diselamatkan.

 Indonesia menjadi berdaulat di sector udara. Sebuah mimpi kemudian dibuyarkan ketika IMF datang ke Indonesia.

Sekarang sudah menjadi bubur. Indonesia tetap menjadi konsumen pembelian pesawat terbang. Indonesia masih tergantung dari AS (Boeing) dan Eropa (Airbus). Indonesia adalah pengekor dari teknologi yang seharusnya sudah dikuasai tahun 2000-an.

Habibie tidak sempat menyaksikan mimpinya. Menyaksikan pesawat Indonesia berdaulat di udara dengan pesawat nasional. Habibie membawa mimpinya ke alam baka. Habibie membawa mimpinya hingga ajal menjemputnya.

Selamat Jalan, Habibie.

Semoga mimpimu terwujud oleh generasi yang akan datang.

*Advokat. Tinggal di Jambi










loading...