Mengenal Pendiri WKS Aris Adhianto, Sempat Ditertawakan Hingga jadi Pemain Kayu Kelas Dunia



Sabtu, 12 Januari 2019 | 10:40:41 WIB



Orang Jambi banyak yang tak tahu. PT Wirakarya Sakti. Sering disingkat WKS, pendirinya adalah Aris Adhianto. Orangnya misterius. Hanya segelintir orang saja yang kenal. Perusahaan kayu pertama dan terbesar di Indonesia.

WKS kerap dianggap perusahaan nakal. Sering menyerobot lahan warga. Kerap memicu konflik sosial. Tapi, belasan ribu orang Jambi justru menggantungkan hidup disana. WKS memberi pendapatan besar bagi Jambi. Dibalik cibiran dan keberadaannya yang penuh misterius itu. Diam-diam WKS mulai disukai. Dia mulai dicintai. Karena dianggap sebagai sumber kekayaan. Kisah tentang Aris Adhianto dan Perjuangannya membangun WKS di Jambi adalah upaya menyingkap yang belum terungkap. Kemunculan WKS ditengah beragam kontroversi. Turut mewarnai daerah yang kini genap berusia 62 tahun itu.

Pak Aris—begitu dia disapa—hanya perlu beberapa tahun saja. Untuk membangun kerajaan bisnis kayu kelas dunia. Tidak mudah. Penuh tantangan. Sering dicibir. Malah ditertawakan. Tapi pak Haris berhasil. Melewati fase-fase sulit itu. Ditangannya lah WKS menjadi korporat besar. Pemain kayu kelas dunia.

Ditangannya, produksi kayu WKS bisa mencapai 4 juta ton. Jauh melampaui Brazil, Finlandia. Yang menjadi negara pertama memproduksi HTI. Yang hanya mampu memproduksi kayu satu juta ton saja. Saat itu, beritanya sangat heboh. Berhari-hari menjadi headline koran lokal. Juga menjadi headline koran-koran di dunia. Semua media seakan kaget. Brazil negara kecil yang hebat. Mampu memproduksi kayu 1 juta ton. Untuk bahan kertas itu.

Padahal, di Indonesia. Di Jambi. Ada WKS. Yang berhasil memproduksi kayu. Bukan cuma 1 juta. Bahkan sampai 4 juta ton. Tapi tak pernah heboh. Tak pernah diberitakan. Tak pernah menghiasi headline koran-koran. Baik koran lokal. Maupun nasional. Apalagi internasional. Sungguh misterius.

“Kita yang pertama. Punya teknologi kayu campuran. Mengolah kayu warna putih, hitam, coklat. Jadi kertas warna putih. Saat itu Negara lain belum bisa. Itu kelebihan kita,”cerita pak Aris di temui di kediamannya, kawasan Depok, Desember 2018 lalu.

Disaat usianya yang sudah lanjut. Kerut wajahnya mulai berkerut. Rambutnya memutih. Ingatan Pak Aris masih sangat kuat. Ia bercerita detail. Tentang bagaimana perjuangannya. Membangun perusahaan kayu di Jambi. Yang bernama WKS itu. Di suia yang masih tergolong muda.

“Justru kita yang ngajarin orang buka usaha HTI. Negara belum punya amdal. Belum punya aturan main. Kita yang ajarin,”ujarnya sembari mengumbar senyum.

Bermula pada tahun 1975. Pak Aris datang ke Jambi. Usianya masih muda belia. Sekitar 20-an tahun. Bertemu pertama kali dengan Gubernur Jambi, Maschun Sofwan. Saat itu Jambi masih belantara hutan. Kayu ada dimana-mana. Pak Aris mengajukan izin ke Gubernur. Untuk ambil kayu kecil-kecil. Respon Maschun Sofwan diluar dugaan. Pak Aris malah ditertawakan.

“Kata pak Gubernur, untuk apa kayu kecil. Kalau mau HPH saya kasih. Tapi saya bilang mau kayu kecil-kecil. Malah diketawain,”ujar pak Aris.

Mulanya Pak Aris diberi izin 200 Ribu hektar. Padahal, saat itu bikin 2 ribu hektar tanaman kayu saja susah. Belum tentu bisa dapat kayu. Waktu itu. Untuk mengejar target 1 juta ton. Pak Haris sampai mengambil sisa-sisa kayu buangan. Kayu-kayu campuran juga diambil. Lalu di ekspor ke Taiwan. Karena saat itu tidak banyak yang mampu mengolah kayu beragam. Hanya bisa seragam. Kemudian berkembang terus. Menjadi 390 hektar. Hingga 400 ribu hektar.

“Jadi, kita nggak minta dan mohon-mohon. Karena waktu itu gakda yang mau bisnis kayu. Kata gubernur yaudah ambil aja. Itu enaknya yang pertama,”katanya.

Sebagai yang pertama. Tentu aturan bisnis kayu tidak seketat sekarang. Saat pak Aris membangun WKS. Regulasi dan aturan mainnya memang belum ada. Belum dibuat oleh negara.

“Dulu waktu belum ada kayu balok, gakda yang mau masuk hutan. Ngapain kerja sama monyet. Gakda yang mau kerja dihutan. Gubernur bilang. Udahlah, ambil aja. Yang mana,”ujarnya.

Dicemooh. Ditertawakan. Kerap diterima pak Aris muda. Diawal-awal membangun WKS itu. Namun naluri suksesnya begitu kuat. Pak Aris pandai membaca masa depan. Pandai melihat peluang bisnis. Pernah satu kali. Ada yang punya kebun di hutan. Dia jalin kerjasama. Kayu tebangan untuk pemilik kebun. Nanti pak Aris yang menanam.

“Semua orang bingung,”ujarnya.

Masalah lain, soal modal. Bisnis HTI butuh modal besar. Makanya tidak ada yang melirik. Untuk memasukkan satu unit tractor saja misalnya. Membutuhkan 210 ribu US Dolar. Fungsi tractor untuk mengangkut kayu. Untuk membersihkan lahan. Harga mercy saja tidak sampai segitu. Modalnya terlalu besar.

“Gakda yang punya duit. Kita masuk hutan bawa alat berat. Yang harganya mahal. Untuk mengerjakannya, saya sempat pakai orang Kerinci. Sampai 600 orang,”bebernya.

Agrowiyana pun marah-marah. Gara-gara pak Aris mau bangun pabrik kayu. Dengan luas lahan 1.200 hektar. Mau bangun apa dengan luasan segitu.

“Saya bikin pabrik karet dan sawit saja Cuma 100 hektar. Kok Bapak minta 1.200 hektar. Untuk apa?,”ulas pak Aris menceritakan protes dari manajer Agrowiyana.

Agrowiyana adalah perusahaan yang bergerak di bidang karet dan kelapa sawit. Juga punya pabrik di Tanjung Jabung. Milik Bakrie Group.

“Karena saya harus menghitung. Kalau hujan bagaimana? Tentu harus nambah stok. Dan stok di pabrik harus ada 3 bulan. Itulah awalnya kenapa saya ajukan ijin lahan pabrik 1.200 hektar. Tapi selalu dicurigai Agrowiyana. Tapi begitulah,”ungkapnya.

Pak Aris memilih Jambi. Sebagai daerah pengembangan HTI pertama di Indonesia. Karena tidak ada yang melirik bisnis kayu saat itu. Kerja di hutan merupakan suatu yang aneh. Dicemooh. Ditertawakan. Adalah hal biasa bagi pak Aris. Bisnis kayu baginya adalah peluang besar. Sebagai pionir, tak salah Aries dijuluki sebagai Bapak HTI Indonesia.(jambilink.com)

 





loading...








Pakai Parang, Satgas TMMD Bersihkan Akar

Pakai Parang, Satgas TMMD Bersihkan Akar

Sabtu, 23/03/2019 13:45:17
Hap... Tenda Pasukan Langsung Jadi      

Hap... Tenda Pasukan Langsung Jadi    

Sabtu, 23/03/2019 13:43:24