Ini Sinopsis Buku Wenri Wanhar: SRI BUDDHA--Bukan Sriwijaya dan BANGSA PELAUT—Kisah Setua Waktu



Minggu, 23 September 2018 | 20:39:39 WIB



Wenri Wanhar (berbaju merah) menjelaskan soal bukunya
Wenri Wanhar (berbaju merah) menjelaskan soal bukunya

JAMBERITA.COM- Wartawan sekaligus sejarahwan menyelenggarakan Musyawarah sepasang buku karya sejarawan Wenri Wanhar berjudul 'Sri Buddha Bukan Sriwijaya' dan 'Bangsa Pelaut Kisah Setua Waktu' di altar kedaton Candi Muara Jambi, Minggu (23/9/2018) siang. Ini dilakukan untuk mendapatkan masukan dari berbagai kalangan sebelum akhirnya sepasang buku ini dicetak.

Musyawarah yang dihadiri tokoh adat, pegiat budaya, peneliti sejarah, mahasiswa dan pecandu ilmu pengetahuan ini digelar bersamaan dengan memperingati Hari Maritim Nasional yang jatuh tepat hari ini Minggu 23 September 2018.

Peringatan Hari Maritim atau boleh juga disebut Hari Bahari di Kompleks Candi Muara Jambi siang nanti digagas oleh Seloko Institute, Yayasan Padmasana dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jambi.

Berikut Ini Sinopsis buku yang akan diluncurkan dalam waktu dekat ini.

SRI BUDDHA--Bukan Sriwijaya dan BANGSA PELAUT—Kisah Setua Waktu

(Sinopsis)

 

KISAH SEPASANG BUKU ini buah karya, buah pikir, buah peluh orang banyak. Gotong royong semua makhluk, dari segala unsur. Beta hanya merangkainya.

Ritual sirih sekapur di altar Kedaton, Candi Muara Jambi sebuah penghormatan kepada leluhur, para empunya masa lampau, sebelum kedua naskah itu naik cetak jadi buku. 

Layaknya sepasang kekasih, kedua naskah ini saling melengkapi. 

Sadarah…

Kami haturkan sirih sekapur. Lengkap sarato pinang. Dengan menautkan sembah jari nan sepuluh, ampun beribu ampun. Membentang warih nan bajawek, pusako dari niniak turun ka mamak, mamak turun ka kamanakan, perkenankan kami bercerita.

Saudara…

Kabar dari masa lampau yang kita ketengahkan ini, semangatnya jauh dari merasa bahwa peradaban kita-lah yang paling tua. Apalagi menganggap paling hebat. Bukan! Bukan itu.

Karena kita tahu dunia ini milik bersama, maka kita tidak sedang menggadang-gadang neo-primordialisme. Tidak pula membangun sentimen rasisme.

Kita hanya bercerita apa adanya. Tak penting menganggap cerita kita inilah yang paling benar. Cerita ini cuma seganggam daun kebenaran, di antara rimbunnya dedauan di hutan.

Nah, karena hari ini tumbuh dari masa lalu. Sepanjang yang berhasil dijangkau, lebih kurang, inilah masa lalu kita…

ALANGKAH bersemangatnya para penemu teori Kerajaan Sriwijaya.

Mereka menafsir kata “sribuza”, “sriboga”, “cha-li-fo-cha”,“shih-li-fo-shih”, “san fo tsi” yang bersebut dalam berita Arab dan berita Cina pada awal masehi menjadi “sriwijaya”.

Karena terlampau bersemangat,  kata “zabag” pun secara serampangan mereka belokkan  jadi “sriwijaya”.

Ketimbang “sriwijaya”, bila dibunyikan, bukankah “san fo tsi” dalam berita Cina itu terdengar “sang bhodi”? dan “shih-li-fo-shih” lebih cocok—berdasarkan dialek dan aksara Cina lebih kena dibaca “sri bhodi”?

Bagaimana dengan “cha-li-fo-cha”,“sribuza” dan “sriboga”? Sungguh--ini tak mungkin keliru--lebih tepat dibaca SRI BUDDHA.

Demi ilmu pengetahuan...maaf beribu maaf. Sriwijaya bukan nama kerajaan. Bukan pula nama seorang raja.

Kekuatan maritim berpengaruh pada masa lampau, yang tumbuh subur di Kepulauan Hindia—negeri yang hari ini bernama Indonesia--adalah SRI BUDDHA.

Sriwijaya memang muncul dalam sejumlah prasasti dan batu bersurat.  Dan, seluruhnya diiringi kata kedatuan dan datuk.

Ya, Sriwijaya memang kedatuan; kedaton!

Semacam civitas akademika. Perguruan tinggi. Kampus tempat orang mengampuh ilmu.

Karena keilmuwannya yang ber-“alam luas berpadang lebar”, alumni kedaton disebut dato; datu; datuk; datuak.

Dabahasa sanskerta artinya yang mulia, toartinya orang. Manusia-manusia mulia yang dimajukan selangkah ditinggikan seranting.

Nah, di mana kedatuan atau kampus Sriwijaya?

Hingga hari ini, rakyat di kawasan CANDI MUARA JAMBI masih menyebut belantara rimba, ladang duku di antara reruntuhan batu bata dari masa lampau ini, dengan nama KEDATON. Candi Kedaton. Tempat sekarang kita berunding.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta... *

 

TEORI SEJARAH KERAJAAN SRIWIJAYA LAHIR SATU ABAD LALU.

Bermula…

Pada suatu hari di bulan Desember 1892. Seorang pegawai pemerintahan colonial Hindia Belanda J.K. van der Meulen membawa laporan ke Bataviaasch Genootschap—lembaga tempat berhimpunnya para ilmuwan kolonial. 

Kini kantor Bataviaasch Genootschap menjelma jadi Museum Nasional, Jakarta. Karena ada patung gajah pemberian penguasa Thailand di pekarangan depannya, gedung itu lebih sering disebut warga Jakarta; Museum Gajah.

Apa yang dilaporan Van der Meulen itu, kemudian hari dikenal sebagai Prasasti Kota Kapur.

Penemuan yang digadang-gadang memulai babak baru dalam menyingkap tabir sejarah Kerajaan Sriwijaya.

Yakni, batu bersurat menyerupai lingga, di Pulau Bangka, sisi timur Sumatera. Tinggi 177 cm. Lebar bagian dasar 32 cm. Lebar puncak 19 cm. Terpancang di dataran berawa, menghadap langsung ke Selat Bangka

Menelaah laporan itu, Bataviaasch Genootschap langsung memberangkatkan Johan Hendrik Caspar Kern, ahli epigrafi yang menangani bidang arkeologi di lembaga tersebut. 

  1. Kern meneliti batu yang itu secara cermat sejak 1902. Dan, pada 1913 dia menulis naskah berjudul De Inscriptie van Kota Kapur.

Termuat dalam majalah terkenal yang diterbitkan KITLV, Bijdragen Koninklijk Instituut, nomor 67.

Dalam BKI--begitu majalah ilmiah bergengsi itu kerap disebut--Kern menerangkan bahwa 10 baris tulisan yang terpahat di Prasasti Kota Kapur menggunakan aksara Pallawa, berbahasa Melayu Kuno. Dibuat pada 608 Saka atau 686 tarekh Masehi.

Menurut bacaan dan tafsirnya, prasasti di tepi Sungai Mendu itu dimaklumatkan oleh seorang raja bernama Wijaya, yang menguasi Pulau Bangka pada abad 7.

Ada empat kata “sri wijaya” dalam prasasti tersebut. Sri Wijaya, menurut Kern, berdasarkan apa yang tertulis di prasasti, adalah nama seorang raja. Sri sebutan untuk raja. Dan Wijaya nama orangnya. Sri Wijaya, dibaca Kern, Raja Wijaya.

Perlu diketahui, hingga saat itu belum pernah ada, baik narasi tertulis pun pitutur lisan yang menyebut-nyebut hal ikhwal Kerajaan Sriwijaya.

  1. Kern, ilmuwan pertama yang meneliti Prasasti Kota Kapur memang tak pernah menyebut Sriwijaya adalah nama kerajaan[1].

Tapi, bacalah seluruh kajian sejarah Kerajaan Sriwijaya. Para ilmuwan yang menekuni bidang ini bersuara bulat bahwa Prasasti Kota Kapur merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang pertama kali ditemukan. Jauh sebelum Prasasti Kedukan Bukit, Prasasti Talang Tuo, Prasasti Palas Pasemah dan lain sebagainya.

Nun jauh di sana…

GEORGE COEDES terpukau. Berkali-kali dia ulang membaca De Inscriptie van Kota Kapur. Naskah Profesor Kern itu sungguh menarik minatnya.

Hati Coedes berdetak. Lebih dari Kern, bagi dia, Sriwijaya bukan sekadar nama raja. Tapi sebuah kerajaan. Kata kedatuan dalam prasasti yang menurut Kern berarti beberapa Datuk, ditafsirkannya kerajaan.

Kemudian, dengan keberanian dan tentu saja kecerdasannya menggunakan hasil penyelidikan sarjana-sarjana lain, ilmuwan kelahiran Paris, 10 Agustus 1886, yang banyak menghabiskan hari-hari di perpustakaan itu menulis artikel berjudul Le royaume de Crivijaya. Naskah berbahasa Perancis yang artinya Kerajaan Sriwijaya.

Inilah narasi pertama yang memperkenalkan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan. Persis satu abad lalu.

Dimuat halaman 1 hingga 36 dalam Bulletin de I’Ecole Francaise d’Extreeme Orient (BEFEO), tome XVIII, nomor 6, tahun 1918, buah kajian Coedes sontak mencuri perhatian dunia–setidaknya para ilmuwan sejarah.

Seumpama sungai. Di naskah itulah narasi sejarah Kerajaan Sriwijaya berhulu. Tuahnya terus mengalir. Ditimba tak habis-habis. 

“Bagaimanapun, harus diakui bahwa ilmu sejarah Sriwijaya adalah penemuan Coedes,” tulis Prof. Dr. Slamet Muljana (1929-1986) dalam buku Sriwijaya.

“Kajian Coedes sontak mengalihkan minat para sarjana sejarah, terutama para sarjana Belanda, yang pada waktu itu terlalu banyak memusatkan perhatiannya kepada sejarah Jawa. Sejarah Sriwijaya itu sangat menarik perhatian. Karena Kerajaan Sriwijaya lebih tua daripada Kerajaan Mataram lama,” sambungnya.

Pada 1919, setahun setelah naskah Le royaume de Crivijaya-nya Coedes yang menghebohkan itu, Jean Philippe Vogel (1871-1958), profesor Universitas Leiden Belanda, seorang ahli sanskerta dan epigrafi yang pernah bekerja untuk Archaeological Survey of India sepanjang 1901 hingga 1914, membuat tulisan bertajuk Het Koninkrijk Crivijaya.[2]

Pada tahun yang sama, Nicolaas Johannes Krom (1883-1945)--ilmuwan barat yang digadang-gadang sebagai orientalis, epigrafis, arkeolog, peneliti sejarah dan budaya tradisional Indonesia generasi awal--mengusung tema sejarah Kerajaan Sriwijaya saat pidato pengukuhannya sebagai guru besar di Universitas Leiden, Belanda.

“…di dalam sejarah Jawa, menyusup masa pemerintahan raja-raja Sumatera, yakni raja-raja Sriwijaya,” ungkapnya dalam pidato berjudul De Sumatraansche Periode des Javaansche Geschie Denis.

Bukti yang dikemukakannya, ialah pemakaian banyak kata Melayu pada piagam Gandasuli dari tahun 832 yang ditemukan di Jawa Tengah. Pidato pamungkas Krom ini termuat dalam buku Krom yang terbit pada 1926. Judulnya Hindoe Javaansche Geschiedenis. 

Pengaruh tuah Le royaume de Crivijaya-nya Coedes juga mengundang lahirnya The Empire of The Maharaja, King of The Mountains and Lord of The Islesbesutan ilumuwan Inggris C.O. Blagden (1864-1949) pada 1920.

Tahun itu pula, setelah membaca tulisan Coedes, Westenenk[3]--Residen Belanda di Palembang--mulai mencari peninggalan-peninggalan kuno yang ada di wilayah kekuasaannya.

“Minatnya atas dongengan Melayu membawanya ke Bukit Siguntang, sekitar 4 km ke arah barat dari pusat kota Palembang,” tulis Bambang Budi Utomo dari Arkeologi Nasional (Arkenas) setelah membaca laporan Westenenk, yang bertarekh 1923.

“Di lereng selatan bukit itu, yang dirusak secara kebetulan oleh pekerjaan membuat jalan, ia menemukan sebuah padmasana serta sebuah fragmen arca yang terbuat dari batu granit. Arca ini kemudian dikenal sebagai arca Buddha dari Bukit Siguntang,” sambung Mas Tomi—sapaan Bambang Budi Utomo—dalam buku Pengaruh Kebudayaan India dalam Bentuk Arca di Sumatra. “Sekitar 5 km ke arah barat laut dari Bukit Siguntang, ia menemukan Prasasti Talang Tuo yang berangka tahun 684 Masehi.”

Masih pada 1920, L.C. Westenenk mendapat laporan dari seorang Belanda bernama Batenburg, yang karib dengan keluarga Melayu di tepi Sungai Tatang, anak Sungai Musi, Kampung 35 Ilir, Kedukan Bukit. Di wilayah yang sekarang termasuk Kecamatan Ilir Barat II, Palembang.

Sebagaimana tersua dalamSriwijaya dalam Perspektif Arkeologi dan Sejarah, sebuah buku yang diterbitkan Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Selatan pada 1993, ada cerita, “prasasti itu secara tidak sengaja ditemukan oleh penduduk kampung bernama Haji Jahri bin Haji Abdurrahman di kebunnya…dijadikan benda keramat oleh penduduk di sepanjang sungai.”

Westenenk menyampaikan temuan itu kepada Frederik David van Bosch, seorang ahli purbakala, pada 30 November 1920. Kisah penemuan Prasasti Talang Tuwo dan Prasasti Kedukan Bukit pun dimuat dalam laporan purbakala triwulan keempat tahun 1920.

Westenenk menceritakan, menurut keluarga yang menyimpannya, batu bersurat itu adalah jimat yang senantiasa dipakai saat perlombaan perahu di Sungai Musi.

Dan siapa sangka. Setelah membaca dan menelaahnya, jimat lomba perahu yang kini dikenal sebagai Prasasti Kedukan Bukit, ternyata diyakini “naskah proklamasi” Kerajaan Sriwijaya.

Tuah Le royaume de Crivijaya-nya George Coedes kian hidup. Teorinya mendapat kekuatan tambahan.

Jika tuahnya diperoleh George Coedes, narasi sejarah Kerajaan Sriwijaya dihidupkan oleh Gabriel Ferrand, seorang Minister Plenipotentiaire. Sama dengan Coedes, dia juga sarjana Perancis.

Jika sebelumnya para penyokong teori narasi Kerajaan Sriwijaya hanya menulis analisa-analisa dan temuannya di jurnal-jurnal ilmiah, makalah di podium kampus-kampus, FERRAND (1864-1935) tampil ke gelanggang pada 1922. Dengan buku setebal 188 halaman; L’Empire Sumatranais de Criwijaya.

Itulah buku pertama yang menyuguhkan cerita kebesaran Sriwijaya dengan alur penuh dramaturgi. Kisah penuh bumbu seperti yang diyakini orang banyak hingga kini.

Demi membaca buku Ferrand, anak Sumatera mana pula yang tak bertampik sorak.

Disamping memaknai tafsir-tafsir para sarjana pendukung teori Coedes, satu di antara kekuatan Ferrand sehingga berhasil membangun narasi sejarah Kerajaan Sriwjaya yang meyakinkan, karena kelihaiannya menggunakan sumber dari berita Arab dan China.

Teori para tuan meneer itulah yang hingga kini jadi mata air. Ditimba lalu dialirkan lagi oleh para perawi sejarah. 

Kini, mari tengok sumber aslinya...

Anda tidak akan mendapati satu pun kalimat Kerajaan Sriwijaya dalam berita Arab dan berita Cina. 

Tentang diksi Sriboga, Sribuza, San-fo-tsi, Cha-li-fo-cha,Shih-li-fo-shih, sudah kami telah sebut di atas.

Ferrand membangun dramaturgi dengan memanfaatkan sumber berita Arab awal masehi. Misal, catatan Ibnu Hordazbih (844-848) berjudul Kitab al masalik wa’l mamalik.

Jelas-jelas di sana tertulis, “Raja Zabak dinamai orang Maharaja.”  Tapi, mereka main sirkus dengan menyebut, “dalam bahasa Arab dan Parsi, Sriwijaya dinamai Zabak.”

Lalu, perawi sejarah berikutnya mengamini begitu saja. Tiap muncul diksi Zabak, atau yang sebunyi dengannya dalam berita-berita Arab, langsung saja dianggap Sriwijaya. Padahal, tak satu pun kata Sriwijaya ditemukan di dalamnya.

Bukan Sriwijaya. Kerajaan maritim berpengaruh di Kepulauan Hindia, sebagian wilayah negeri yang hari ini bernama Indonesia, adalah Sri Buddha.

Berjaya pada masa sungai-sungai adalah jalan raya, dan lautan gelanggangnya. Semasa nenek moyang Indonesia masih menjadi Bangsa Pelaut.  *

 

MONUMEN SRI BUDDHA

 Sepuluh perahu terukir di relief  Borobudur; monumen Sri Buddha terbesar di dunia, yang bersemayam di jantung tanah Jawa.

Bukti ampuh arkeologis, bahwa leluhur Indonesia memang bangsa pelaut.

Perahu bercadik--perahu bersayap yang hingga kini banyak dijumpai di pantai Indonesia--dibangun berdasarkan falsafah “mengukur sama panjang, menimbang sama berat”.

Perahu jenis ini digadang-gadang sebagai jembatan apung pertama yang menghubungkan nusa-nusa di dunia.

 PROKLAMATOR kemerdekaan Indonesia, saat  membuka Institut  Angkatan Laut (IAL), di Surabaya, 1953 berseru...

 “Usahakan penyempurnaan keadaan kita ini, dengan menggunakan kesempatan yang diberikan oleh kemerdekaan.

 Usahakan agar kita menjadi bangsa pelaut kembali.

 Ya, bangsa pelaut dalam arti seluas-luasnya.

 Bukan sekadar menjadi jongos di kapal. Bukan!

 Tetapi bangsa pelaut dalam arti cakrawati samudera.

 Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga. Bangsa pelaut yang mempunyai armada militer.

 Bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri.”

 Ketika melantik Kepala Staf Angkatan Laut R.E. Martadinata di Istana Merdeka, Jakarta, 17 Juli 1959, Presiden Soekarno kembali mengingatkan...

 “Jang kita maksudkan dengan perkataan zaman bahari ialah zaman purbakala, zaman dahulu, zaman kuno.

 Zaman jang lampau itu kita namakan zaman bahari. Apa sebab?

 Sebabnja ialah kita di zaman yang lampau itu adalah satu bangsa pelaut.

 Bahar, elbaher artinya laut. Zaman bahari berarti zaman kita mengarungi bahar, zaman kita mengarungi laut, zaman tatkala kita adalah bangsa pelaut.”

 Dan, setelah menelusuri catatan-catatan dari masa lampau, ternyata bahari berasal dari kata bahar, nama satuan ukur untuk menimbang rempah-rempah di Kepulauan Hindia—negeri yang hari ini bernama Indonesia.

 Satu bahar, dua bahar…sekian bahar. Sebagaimana hari ini menyebut satu kilo, dua kilo.

 Kesimpulan kami, karena petualang dan saudagar dari tanah Arab hilir mudik melaut mencari rempah-rempah ke Kepulauan Hindia, berangsur-angsur, istilah melaut mereka sebut el-bahar, dan lambat laun menjadi bahari.

Nah, Bung Karno telah mengemas kata pengantar buku ini sejak 23 September 1963, saat berpidato membuka Musyawarah Nasional Maritim I, di Gedung Dewan Maritim, Jakarta Pusat.

Berdasarkan arsip milik Departemen Penerangan Republik Indonesia yang kami temukan, judulnya Kembalilah Mendjadi Bangsa Samudera!

Dulu, kantor Dewan Maritim berada di Gedung Kosatop—akronim dari Komando Satuan Operasi. Berada di Jl. Prapatan, Jakarta Pusat. Jaraknya hanya sepelemparan batu dari Monumen Nasional (Monas).

Kini, Jl. Prapatan telah berganti nama jadi Jl. Usman Harun. Gedung Kosatop juga telah berganti rupa.

Lokasi persisnya, “di sekitar kampus PPM Manajemen sekarang ini. Seberang Tugu Tani. Dulu, itu kantor Dewan Maritim,” kata Pak Basri, yang ketika Munas Maritim I digelar, tercatat aktif sebagai mahasiswa Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) Jakarta. Pak Basri lahir tahun 1940-an. Civitas akademika AIP tentu mengenalnya sebagai satu di antara pengajar AIP yang cukup melegenda.

Pada malam pembukaan Munas Maritim I, kaum bahari Indobesia menganugeragi Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia gelar kebesaran; Nakhoda Agung.

Sebagai simbol, masyarakat maritim Indonesia memasangkan sebuah kalung, yang menurut Bung Karno, alangkah indahnya. 

“Saudara-saudara,” Bung Karno menghatur terima kasih. “Saya terima pengangkatan menjadi Nakhoda Agung ini dengan penuh rasa tanggungjawab.”

Sebagaimana pidato Nakhoda Agung malam itu, pengantar buku Bangsa Pelaut—Kisah Setua Waktu, bertajuk KEMBALILAH MENDJADI BANGSA SAMUDERA!

Pada hari yang berbahagia ini, kami bagikan arsip “rahasia” ini untuk saudara…

[1]Kern lahir di Purworejo, Jawa, 6 April 1833 dari rahim perempuan bernama Maria Conradina von Schindler. Ayahnya  Johan Hendrik Kern, seorang mayor KNIL. Sebelum meninggal di Utrech, Belanda, 4 Juli 1917, Kern sempat menjadi professor di Benares dan Leiden sepanjang 1865-1903. Sebagai ilmuwan, ia sangat produktif menulis. Di antara sekian banyak karyanya, yang paling terkenal Geschiedenis van het Buddhisme in Indie. Dialah yang punya teori bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Asia daratan. Datang ke Kepulauan Hindia—negeri yang hari ini bernama Indonesia--dengan perahu bercadik. Nama Kern bertebaran dalam sejumlah arsip kolonial. Masyhur sebagai ahli bahasa Sanskerta. Keilmuwannya di bidang filologi India, Melayu dan Polinesia dipuja-puji. Para sarjana Barat menjulukinya mahaguru. Bataviaasch Genootschap, kantor Profesor Kern ketika meneliti Prasasti Kota Kapur beroleh gelar Koninklijke atau gelar kerajaan dari Kerajaan Belanda, pada 1923. Dianggap berjasa di lapangan ilmiah.

[2]Guna memperkaya khasanah, bacalah Suvarnadvipa, karangan Dr. R.C. Majumdar M.A., Ph.D. Termuat dalam Ancient Indian Colonies in The Far East, vol II, Dacca-1937.

[3]Westenenk bukan ambtenaar biasa. Dia rajin menulis, khususnya temuan arkeologis di wilayahnya. Antara lain, Uit het Land van Bittertong dan Boekit Segoentang en Goenoeng Mahameroe uit de Sedjarah Melajoe.

 

 

 






loading...