Kebakaran Hutan Harapan Sebagian Besar di Area Konflik



Minggu, 19 Agustus 2018 | 15:14:03 WIB



 

 

JAMBERITA.COM - Kemarau 2018 memunculkan sejumlah hotspot (titik panas) di beberapa kawasan hutan di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Hostpot juga terpantau di Hutan Harapan, kawasan restorasi ekosistem yang dikelola oleh PT Restorasi Ekosistem Indonesia (PT Reki). Sebagian besar terpantau di wilayah klaim masyarakat.

Sejak Januari 2018, terpantau sebanyak 33 hotspot dalam kawasan Hutan Harapan. Luas area yang terbakar mencapai 83 hektar, terluas pada Agustus, yakni 63 hektar pada 11 hotspot. Hotspot diketahui dari peta satelit, laporan Satgas Karhutla, laporan masyarakat serta patroli dan pantauan langsung tim damkar Hutan Harapan.

“Dari peta satelit dan pantauan langsung tim di lapangan, semua hotspot berada di area konflik, yakni di area perambahan masyarakat yang belum bermitra dengan Hutan Harapan. Untuk area masyarakat yang sudah bermitra relatif tidak ada kebakaran,” ujar Head of Strategic Partnership and Land Stabilization Division PT Reki Adam Aziz di Jambi, Minggu (19/8/2018).

Kebakaran seluas 63 hektar pada Agustus terjadi sebagian besar di Pangkalan Ranjau, Hulu Badak dan Tanjung Mandiri dan sekitarnya. Terbanyak di Pangkalan Ranjau, wilayah klaim kelompok Serikat Petani Indonesia (SPI) dan Kelompok Jufri dampingan AGRA. 

Terdapat 22 kelompok masyarakat yang mengklaim lahan di Hutan Harapan, yakni 15 kelompok di wilayah Jambi dan 6 kelompok di wilayah Sumsel. Mengacu kepada Permen LHK No 83 Tahun 2016 tentang Perhutanan Sosial dan Permen LHK No 84 Tahun 2015 tentang Penanganan Konflik Tenurial, penyelesaian konflik lahan di areal konsesi perusahaan dilakukan melalui kemitraan kehutanan. 

Mempedomani dua permen tersebut, sebanyak 8 (delapan) kelompok sudah menandatangani kesepakatan kemitraan dengan PT Reki, sisanya dalam proses resolusi konflik melalui mediasi dan negosiasi. Kelompok Jufri dan SPI belum menyepakati kemitraan --masih dalam proses mediasi.

 Kelompok Jufri berjumlah 311 KK yang mengklaim area seluas 1.150 hektar, sedangkan kelompok SPI Wilayah Jambi dengan anggota 518 KK mengklaim seluas 1.917 hektar. 

Kelompok masyarakat tertentu berupaya menghalangi akses staf PT Reki untuk patroli pengamanan kawasan dan pencegahan serta pemadaman kebakaran hutan di Pangkalan Ranjau dan sekitarnya. Mereka merusak dan membakar jembatan yang dibuat dan menghadang perbaikan jalan oleh tim PT Reki. Mereka juga menutup akses dengan membangun gerbang/portal.

Adam meminta masyarakat dan semua pihak mengawasi para penggarap agar tidak melakukan pembakaran lahan. Apalagi, pencegahan kebakaran telah menjadi kesepakatan awal masyarakat di hadapan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Adam juga meminta dukungan pemerintah melakukan penegakan hukum terhadap para perusak dan pembakar hutan. 

Untuk melakukan pemadaman, manajemen Hutan Harapan berkoordinasi dengan Satgas Karhutla Provinsi Jambi, Sumsel, kabupaten dan memberikan laporan ke KLHK. Di Hutan Harapan tersedia sebanyak 46 embung (kantong air) alami (sungai dan danau) dan 22 embung buatan (gali dan tangki). Sebanyak 6 (enam) regu pemadam kebakaran dengan sekitar 50 personel disiagakan dan sewaktu-waktu bisa ditambah dengan karyawan di bagian lain. 

Peralatan damkar PT Reki didukung oleh 5 (lima) unit mesin pompa air Mark-3 Wildfire 27 kg yang mampu menyemprotkan air dengan 14 cabang selang masing-masing sepanjang 40 meter secara bersamaan. Ada pula 5 (lima) unit mesin pompa Mini Striker 9 kg yang mampu menyemprotkan air dengan selang sepanjang 30 meter dengan lima cabang secara bersamaan dan 2 (dua) unit mesin pompa CET 20hp PFP 86 kg.(*/sm)

 

 






loading...