Soal Hujan Meteor, Ini Penjelasan Ilmiahnya



Sabtu, 11 Agustus 2018 | 21:09:42 WIB



JAMBERITA.COM- Hujan Meteor sendiri terjadi karena bumi berpapasan dengan benda angkasa yang lewat dan debu batuan yang terbawa masuk ke dalam atmosfer bumi. Benda angkasa ini berpapasan dengan bumi karena ia juga mengorbit ke matahari.

Nyaris semua debu komet ini habis terbakar dengan panas 1.650 derajat Celcius saat memasuki atmosfer. Momen ketika debu-debu ini terbakarlah yang kita saksikan sebagai hujan meteor di Bumi. 
Untuk debu meteor dengan ukuran agak besar akan terbakar lebih lama dan nampak seperti sebuah bola api diangkasa bahkan hingga diiringi dengan suara ledakan dari daratan.

"Hujan meteor disebabkan karena bumi berpapasan dengan gugusan debu sisa komet yang juga mengorbit matahari," jelas Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN) Thomas Djamaluddin seperti dikutip dari  CNNIndonesia.com, Jumat (10/8).

Ia juga menjelaskan bahwa ketika gugusan debu dari komet paling banyak terbakar secara bersamaan di atmosfer bumi, saat itulah hujan meteor mencapai puncaknya.

"Puncak kerapatan gugusan debu tersebut kadang sedikit berubah akibat dinamika orbitnya. Akibatnya puncak hujan meteor kadang sedikit berubah. Pergeseran puncaknya biasanya hanya beberapa jam saja," ujarnya.

Akibat gerak revolusi tersebut, maka tanggal perjumpaan bumi dengan benda-benda angkasa ini biasanya hampit tetap momennya setiap tahun. 

Tapi dinamika orbit komet yang berpapasan dengan bumi, menyebabkan puncak hujan meteor tiap tahunnya dapat berubah. 

Nama hujan meteor sendiri diberikan dari asal titik radian hujan meteor berdasarkan rasi bintang tertentu. Sebagai contoh hujan meteor Perseids didapat karena meteor seolah-olah berasal dari arah rasi bintang Perseus.(*/sm)

 



Advertisement



loading...