SAH: Ada Ironi Bangsa Antara Kebijakan THR Dengan Kasus Anak Sekolah Yang Harus Mengarungi Sungai



Rabu, 06 Juni 2018 | 06:20:09 WIB



SAH saat rapat di DPR RI pada Selasa (5/6/2018)
SAH saat rapat di DPR RI pada Selasa (5/6/2018)

JAMBERITA.COM - Cerita perjuangan anak - anak sekolah dasar yang harus menyeberangi sungai deras untuk pergi sekolah merupakan  ironi Bangsa Indonesia hari ini.

Pernyataan ini disampaikan Pimpinan Komisi Pendidikan DPR RI Sutan Adil Hendra (4/6) kemarin di Jakarta. Menurutnya kasus seperti yang terjadi di Maros Sulawesi Selatan dan daerah lainnya susah dinalar dengan akal sehat.

Ini ketika pemerintah bisa mengeluarkan  anggaran puluhan triliun rupiah untuk Tunjangan Hari Raya (THR) PNS. Di sisi lain masih banyak anak - anak SD yang masih harus mengarungi sungai untuk ke sekolah.

"Pemberian THR besar - besaran dan anak sekolah yang menyeberangi arus deras sungai merupakan potret buram dunia pembangunan tanah air, yang semuanya menggambarkan rendahnya pemerataan kesejahteraan pendidikan bagi anak - anak bangsa,” jelasnya. 

Bahkan oleh Anggota Fraksi Partai Gerindra itu dua kasus yang bertolak belakang ini memperlihatkan rendahnya komitmen pemerintah untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur, mereka lebih mementingkan belanja pegawai secara tidak proporsional, meskipun terhadap upaya mencerdaskan anak bangsa sekalipun, bebernya.

"Kemauan politik pemerintah lemah, mereka masih mengejar pencitraan, padahal lebih banyak hal urgen yang perlu diperhatikan, karena  di zaman sekarang rasanya sulit kita menerima masih ada anak sekolah yang harus menyeberangi sungai tanpa sarana jembatan, di sini lemahnya prioritas pembangunan kita,”jelas SAH.

Kasus ini merupakan contoh bahwa kita perlu belajar untuk mendesain  program lepas dari jerat pencitraan, dan melupakan yang perlu untuk di bangun.

"Seandainya seperempat saja dana THR digunakan untuk membangun jembatan, tentu tidak ada kasus yang memalukan ini terjadi,” jelasnya.

Dari sisi program SAH mengingatkan situasi tersebut harus memacu para pemerintah untuk melakukan strategi prioritas infrastruktur dasar bukan infrastruktur Mercusuar yang belum penting, untuk apa kereta cepat, jika jembatan untuk anak - anak ke sekolah belum dibangun. 

Padahal infrastruktur dasar seperti jembatan di daerah yang memiliki sungai bisa mendukung bidang pendidikan, membantu akses jalan atau jembatan bagi anak - anak yang akan sekolah.

"Karena jangan ada ironi antara pemberian THR dengan kasus anak mengarungi sungai untuk ke sekolah, ini refleksi, renungan untuk kita semua,” pungkasnya.(*/sm)



Advertisement











APK di Batam Masumai Belum Dibongkar

APK di Batam Masumai Belum Dibongkar

Minggu, 24/06/2018 18:05:00