Paradigma Masyarakat Bahar Grup Terhadap Pendidikan



Rabu, 23 Mei 2018 | 09:51:24 WIB



Rahmat Hidayat
Rahmat Hidayat

Pendidikan merupakan hal yang penting dan tidak bisa dilepaskan dari kehidupan. Pendidikan berfungsi untuk meningkatkan kualitas generasi muda khususnya agar membawa perubahan baik untuk bangsa dan mampu bersaing dengan negara lain. Karena generasi mudalah yang akan memimpin negara ini kedepannya. Tetapi entah mengapa banyak sekali masyarakat Indonesia tidak mengenyam pendidikan, khususnya daerah Bahar Grup (Bahar Selatan, Bahar Utara dan Sungai Bahar).

Tidak sedikit anak Bahar yang mencukupkan pendidikannya hanya sebatas SMA/SMK dan tidak memilih untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Stigma yang terbangun di benak orang tua dan anak mudanya ialah bahwa kuliah biayanya besar, belum lagi ditambah biaya hidup yang tinggi. Sudah banyak yang lulus sarjana tapi belum mendapat pekerjaan dan kalaupun dapat gajinya tidak sebanding dengan biaya pendidikan yang dikeluarkan. Akhirnya mereka lebih memilih untuk bekerja mencari uang daripada mengeluarkan uang untuk biaya pendidikan.

Menurut Penulis pendapat tersebut cukup rasional, bukanlah alasan yang mengada-ada. Uang kuliah mahasiswa biasanya memang bergantung pada penghasilan orang tuanya. Tapi bagi yang tidak mampu, mereka bisa mendaftar berbaga beasiswa, beasiswa Bidik Misi misalnya yang menanggung biaya mulai awal kuliah sampai wisuda. Ada juga beasiswa lainnya, seperti BI, PPA, Tanoto Foundation, Djarum dan lain-lain.

Tapi jika orang tua dan anak mudanya cenderung berpikiran pesimisi dan skeptis tentu akan berdampak negatif bagi peningkatan kualitas dan jenjang pendidikan generasi muda. Tidak perlu mencontoh yang gagal, karena dapat berdampak pada gagal pemikiran bagi mereka yang mencontohnya. Kenapa tidak mencontoh yang berhasil. Guru, camat, kepala dinas, ketua KUA, Bupati, Gubernur, nah siapa yang akan menggantikan mereka kalau bukan yang muda dan berpendidikan ?

Thomas Alfa Edison (Penemu lampu pijar), Bill Gates (Pimpinan Microsoft), Mark Zuckerberg (Pendiri FaceBook), Jack Dorsey (Pendiri Twitter), Jose Mourinho (Pelatih Sepak Bola dengan julukan The Special One) dan Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan RI). Mereka semua orang-orang sukses yang tidak mengantongi ijazah sarjana. Lantas apakah dapat langsung disimpulkan bahwa sarjana tidak menjamin kesuksesan, karena tokoh-tokoh tersebut menjadi orang sukses di bidangnya tanpa gelar sarjana ? Penulis justru mengajak untuk introspeksi, sudah mampukah kita seperti mereka? Menghabiskan waktu 8 jam per hari di depan komputer, berjam-jam di laboratorium, berani mengambil risiko, trus mencoba walaupun sudah ribuan kali gagal, selalu berpikir kritis dan optimis ? Semoga kita bisa.

Itulah sebabnya kita juga harus mempunyai ketrampilan selain pendidikan, agar kita siap menghadapi dunia kerja. Ternyata pendidikan saja tidak cukup. Ketrampilan dan pendidikan harus seimbang agar kita bisa berpikir secara kritis dan rasional. Untuk menumbuhkan itu, mahasiswa dapat bergabung dengan organisasi Paguyuban Ikatan Mahasiswa Bahar (IMABA) salah satunya. Ada juga organisasi ekstra kampus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bagi yang beragama Islam misalnya. PMKRI, GMKI bagi yang beragama Kristen, dan lain-lain. Kongko-kongko tentu boleh saja apalagi di sekretariat organ mahasiswa, nikmati kehidupan kampus dan jangan sampai kampus menjadi tembok yang memenjarakan kreatifitas dan idealisme mahasiswa.

Nagasaki di bom tanggal 6 Agustus 1945, Hiroshima di bom tanggal 9 Agustus 1945 oleh Amerika dan sekutu. Tepat di tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan Kemerdekaannya. Jepang dan Indonesia sama-sama membangun Negaranya sejak saat itu. Puluhan tahun berlalu, Jepang kini telah jauh berubah menjadi negara dengan teknologi dan SDM yang baik, lalu bagaimana dengan Indonesia ? Itulah guna pendikan. Pendidikan adalah investasi jangka panjang.(*)

 

Penulis :

Rahmat Hidayat, Ketua IMABA (Ikatan Mahasiswa Bahar)



Advertisement











APK di Batam Masumai Belum Dibongkar

APK di Batam Masumai Belum Dibongkar

Minggu, 24/06/2018 18:05:00