Quo Vadis Reformasi (Suatu Kesaksian)



Rabu, 23 Mei 2018 | 08:47:22 WIB



Kun Nurachadijat (tengah), Ketua Presidium Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi se-Indonesia, saat memimpin sidang dengan agenda mencabut NKK/BKK di Universitas Mulawarman, Samarinda (6 Maret 1996)
Kun Nurachadijat (tengah), Ketua Presidium Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi se-Indonesia, saat memimpin sidang dengan agenda mencabut NKK/BKK di Universitas Mulawarman, Samarinda (6 Maret 1996)

Dalam khazanah ilmu Ekonomi ada konsep yang disebut  freerider, yakni penunggang gelap.

Reformasi kala itu bergerak dengan suatu kekuatan bak air bah. Tidak tertahan, tidak ubahnya penggelindingan sebuah bola salju.

Ada banyak teori menyertainya, ada yang mengatakan ABRI yang mendalangi, ada yang menuduh CIA, ada yang berpendapat itu murni driven dari mahasiswa.

Entah yang mana yang kuat, yang jelas ketika NKK BKK kucabut atas nama Pertemuan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) se-Indonesia di Samarinda 1996, gaung dan gema delegitimasi Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi bak efek kartu domino. Dan saya tegaskan, pencabutan atas Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK BKK) yang merupakan ide gemilang Mendikbud Daoed Jusuf dalam memasung daya kritis mahasiswa, itu tidak ada dalang. Murni kami sebagai para utusan dari semua perguruan tinggi se-Indonesia (senada dengan kesaksian Saudara Indra Jaya Piliang, utusan UI, yang juga terlibat langsung dalam sidang tersebut).

Satu persatu legitimasi dari mahasiswa atas senat mahasiswa perguruan tingginya rontok.

Sepasca Samarinda itu, kami para penggiat Forum Komunikasi SMPT se-Indonesia yang seolah selama Orba adalah sel tidur, kala itu mendadak sontak aktif menyadarkan para mahasiswa di kampusnya masing masing tuk berani menyuarakan nurani.

Saya sendiri sebagai Ketua Presidium SMPT se-Indonesia, tatkala sebagai Ketua Orientasi Perguruan Tinggi UI 1996 dari unsur mahasiswa di kampus sendiri (UI), berupaya terus mengelorakan hasil Samarinda itu sebagai inspirasi kemanapun dan kepada siapapun. Diantaranya pada 8000-an mahasiswa baru UI angkatan ‘96 berupa penanaman trik dan cara berdemo. Langkah ini diawali dengan lambang OPT UI ‘96 yang 99% adalah desainku agar Mahasiswa UI bersatu.

Ada secercah kebanggaan dan haru, dimana Adinda Yun Hap mahasiswa FTUI ‘96, ketika gugur bersimbah darah terterjang timah panas aparat, emblim Mahasiswa UI bersatu ‘96 rancanganku yang tertempel pada jaket kuningnya, setia menyertai hingga Yun Hap gugur mninggalkan kita selamanya.

Kembali ke Freerider, ternyata fenomena freerider itu selalu ada dan tetap ada. Ia merupakan aksioma atas suatu kejadian.

Pasca reformasi, saya merasa kekuatan freerider benar-benar bak tsunami. Mendadak sontak mereka yang tidak kunotifikasi seputar 1996, 1997 dan bahkan 1998 sendiri lantas mengklaim diri sebagai reformer sejati.

Tapi sudahlah, itu sudah aksioma bagian dari hukum alam. Hanya saja yang sangat disesalkan, apabila freerider reformasi itu menjadikan reformasi hanya sebagai modal membesarkan diri untuk kembali ber-attitude buruk seperti zaman sebelum reformasi, korupsi kembali mencuat bahkan lebih parah dari zaman sebelumnya.

Dalam kondisi seperti ini, bila tidak berpikir komprehensif, kadang terasa ada sesal mengapa dulu Orde Baru dijatuhkan. Namun di sisi lain dari jiwa ini menegaskan bahwa ini adalah kodrat zaman, bagian dari proses metamorfosa bangsa ke arah kematangan. Dan itu saya sampai kapanpun meyakininya. Insya Allah.

Kepalkan Jari Jadi Tinju, Ul UI Kampusku!

 

Penulis :

Dr. Kun Nurachadijat
Ketua Presidium Sidang Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi se-Indonesia 1996.






loading...