JoomlaLock.com All4Share.net
Masjid Batu, Masjid Tertua di Jambi, Ini Sejarahnya...
Masjid Ihsaniyah Olak Kemang, Seberang Kota Jambi

JAMBERITA.COM – Bagi masyarakat kota Jambi khususnya warga kelurahan Olak Kemang kecamatan Danau Teluk tentu tidak asing dengan nama Masjid Batu. Masjid yang terletak tidak jauh dari simpang Pasar Olak Kemang ini sekilas terlihat biasa saja, lazimnya masjid-masjid yang ada di kota Jambi. Namun ternyata umurnya sudah sangat tua, dan tersimpan catatan sejarah dalam rentang waktu keberadaannya yang bisa dijadikan pelajaran bagi generasi sekarang.

Masjid Batu ini, yang sekarang diberi nama Masjid Ihsaniyah didirikan oleh seorang Habib (memiliki garis keturunan sampai kepada Rasulullah Muhammad SAW, red) bernama Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri pada tahun 1880. Sayyid Idrus adalah Sultan atau Raja yang berkuasa di daerah itu pada dekade akhir abad ke-19 dengan gelar Pangeran Wiro Kusumo.

Masyarakat Jambi yang pada waktu itu sudah fanatik ke-Islamannya memanfaatkannya sebagai tempat ibadah dan berbagai kegiatan sosial.

Bagian dalam masjid dipenuhi dengan kaligrafi arab berbagai rupa. Mimbar berdiri anggun di sisi kanan mihrab. Sementara beduk peninggalan masa lampau berada di bagian belakang bagian dalam masjid.

Ciri mencolok dari masjid ini adalah banyaknya jendela. Jendela-jendela yang dipasang berpasangan itu mengelilingi masjid. Hanya tembok mihrab yang tak berjendela.

 

WhatsApp Image 2018 01 15 at 13.00.00

Masjid Ihsaniyah (Masjid Batu) sebelum direnovasi menjadi kondisi seperti sekarang

 

Pada awal abad ke-20, perkembangan Islam di Jambi maju pesat. Hal ini seiring dengan majunya pendidikan ke-Islaman di Seberang Kota Jambi (Kecamatan Danau Teluk dan Kecamatan Pelayangan, red) yang ditandai dengan berdirinya empat pesantren utama, yaitu Pesantren Nurul Iman, Pesantren Sa’adatud Daarain, Pesantren Jauharain, dan Pesantren Nurul Islam. Keadaan ini membuat kesadaran ke-Islaman penduduk semakin mengkristal dan menjadikan kawasan Seberang Kota Jambi banyak didatangi orang dari berbagai daerah untuk belajar Islam.

Keadaan ini ternyata berdampak bagi Masjid Batu. Makin lama jamaah masjid semakin penuh hingga akhirnya tak lagi mampu menampung jamaah yang terus membludak, terlebih pada Salat Jumat. Maka tokoh-tokoh masyarakat menggelar musyawarah dan bermufakat untuk memperbaharui masjid. Disepakati dana pembangunan masjid dikumpulkan dari sedekah dan infaq masyarakat sampai akhirnya terkumpul dana yang cukup untuk memugar masjid. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1935.

 

WhatsApp Image 2018 01 15 at 13.01.52

Para tokoh masyarakat dan 'alim ulama di Seberang Kota Jambi

 

Karena saat itu pemerintah kolonial Belanda masih bercokol di bumi pertiwi, para tokoh masyarakat memutuskan untuk meminta izin kepada Belanda. Lalu mereka mengajukan permohonan pemugaran masjid ke pemerintah Belanda yang ada di Jambi dengan menceritakan latar belakang dan sejarah berdirinya masjid. Hal ini membuat Belanda mengetahui bahwa Masjid Batu tersebut adalah peninggalan Sayyid Idrus yang merupakan salah seorang Sultan Jambi yang bergelar Pangeran Wiro Kusumo.

Pada tahun 1937 pihak kolonial mengambil alih pembangunan masjid, karena mereka menganggap menganggap bahwa masjid memiliki nilai sejarah yang tinggi sebagai masjid Sultan. Dana pun turun dari pihak kolonial dan pembangunan sepenuhnya berada dalam pengendalian Belanda. Padahal awalnya para tokoh masyarakat hanya perlu izin karena dana sudah tersedia. Walhasil dana dari masyarakat tersebut tidak terpakai, namun digunakan untuk membuat pagar mengelilingi masjid.(yib)

Sumber : Wakil Ketua Pengurus Masjid Ihsaniyah, H. Hasbi, SH

Dibaca 411 kali
Tagar Terkait:
Bagikan ke Medsos !

BERITA 5 BAWAH

  • BERITA JAMBI
  • POLITIK JAMBI
  • HUKUM JAMBI
  • OPINI JAMBI
Post by Redaksi
16 FebruarI 2018 - 20:13