JoomlaLock.com All4Share.net

bawas1u

Lafran Pane, Sosok Panutan Masyarakat Indonesia
Lukman Hakim Dalimunthe

Ditulis Oleh :  Lukman Hakim Dalimunthe
Kader HMI komisariat Fak. Peternakan Korkom Universitas Jambi


Setelah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 9 November 2017  oleh Presiden Joko Widodo yang diterima oleh ahli warisnya, Iqbal Pane, seluruh rakyat Indonesia ikut bersuka cita. Utamanya keluarga besar HMI dan KAHMI di seluruh penjuru dunia. Secara pribadi penulis juga turut bersyukur, senang, sedih dan gembira atas gelar kepahlawanan yang telah diberikan negara kepada almarhum ayahanda Lafran Pane.

 

Lafran Pane lahir di kampung Pangurabaan, Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan, 38 kilometer ke arah Utara dari kota Padang Sidempuan, Provinsi Sumatera Utara. Tepatnya pada tanggal 5 Februari 1922. Lafran Pane adalah tokoh pendiri/pemrakasa berdirinya HMI yang sampai saat ini telah menjadi organisasi mahasiswa terbesar dan tertua di Indonesia.

 

Lafran Pane kuliah di Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta (kini UII), kemudian pindah ke Akademi Politik Indonesia (AIP) pada bulan April 1948. Setelah Universitas Gadjah Mada dinegerikan tanggal 19 Desember 1949 dan AIP dimasukkan dalam Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial politik (HESP), beliau termasuk sarjana ilmu politik pertama di Indonesia yang diwisuda pada tanggal 26 Januari 1953. Singkat cerita Lafran Pane wafat pada 25 Januari 1991.

 


Dari berbagai sisi kehidupan, seperti yang akan dituturkan dibawah ini, Lafran Pane dapat dijadikan sebagai panutan. Hal ini penulis kutip dari buku “Lafran Pane: Penggagas Besar” yang ditulis oleh Achmad Tirtosudiro, Ahmad Dahlan Ranuwiharjo dan Agussalim Sitompul.


Pertama. Taat Beragama.


Lafran Pane adalah seorang yang taat menjalankan perintah Islam, baik di dalam maupun diluar rumah. Kewajiban-kewajiban agama, semua dilaksanakan dengan penuh kesadaran termasuk menunaikan ibadah Haji ke tanah suci. Beliau tidak segan-segan memarahi dan memberi peringatan keras kepada anak-anaknya jika lalai terhadap perintah agama Islam.


Kedua. Memiliki akhlak kepemimpinan.


Setelah HMI berdiri pada 5 Februari 1947, muncul anggapan bahwa HMI hanyalah untuk mahasiswa STI (kini UII) saja, karena seluruh pendiri HMI adalah mahasiswa STI. Sehingga kampus lain yang ada ketika itu tidak boleh masuk HMI.

 

Kesan itu tidak menguntungkan dan merugikan masa depan HMI. Untuk menghilangkan kesan buruk itu, maka Lafran Pane berpendapat supaya ketua HMI (Lafran Pane-mahasiswa STI) diganti dengan orang lain yang bukan mahasiswa STI.

 

Dalam hal ini Lafran Pane sangat selektif mencari penggantinya, yaitu orang yang taat melaksanakan sholat. Maka singkat cerita bertemulah Lafran Pane dengan M. Mintaredja mahasiswa Fakultas Hukum, BPT Gadjah Mada, pribadi yang taat melaksanakan sholat.

 

Secara resmi pergantian ketua umum PB HMI dari Lafran Pane ke M. Mintaredja dilakukan pada tanggal 22 agustus 1947. Lafran Pane tidak mau apabila karena dirinya terhalanglah kemajuan HMI. Karena orang diluar STI tidak mau masuk HMI. Sejak pergantian itu berbondong-bondonglah mahasiswa di luar STI untuk masuk HMI.


Dari kejadian di atas,  Lafran pane memperlihatkan akhlak kepemimpinan yang sangat menarik. Demi kepentingan perkembangan HMI di masa depan, Lafran Pane berpikir jangka panjang. Buah pemikiran jangka panjang itu , hingga kini kita semua masyarakat Indonesia  dapat merasakan peran HMI dalam mempererat ukhuwah islamyiah. 


Ketiga, Tidak mau ditawari suatu jabatan


Banyak tawaran jabatan yang ditawarkan kepada Lafran Pane diantaranya menjadi rektor IKIP Medan (kini UNIMED), rektor Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) di Medan, Rektor Universitas Lampung (UNILA) di Lampung. Semua tawaran itu ditolak Lafran Pane. Kalau Lafran Pane bersedia maka konsekuensinya Lafran Pane dan keluarga terpaksa harus meninggalkan Kota Yogyakarta yang telah ditinggalinya sejak tahun 1945. Lafran Pane tetap berkeinginan sampai akhir hayat kecuali Allah SWT berkehendak lain untuk tetap tinggal di Yogyakarta, tempat Ia mendirikan HMI.


Keempat. Berpendirian Independen


Lafran Pane pernah ditawari untuk duduk sebagai pimpinan dalam PPP. Hal yang sama pernah ditawarkan GOLKAR baik sebagai pengurus maupun mewakili GOLKAR di lembaga legislatif. Tawaran yang serupa pernah disampaikan Pengurus Besar Al Jamiatul Washliyah agar Lafran Pane bersedia menjadi Ketua Umum Al Jamiatul Wasliyah Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Akan tetapi semua jabatan itu ditolak Lafran Pane. Menurut beliau, “kalau Saya masuk salah satu partai atau organisasi, saya sebagai pemrakasa berdirinya HMI nanti akan timbul anggapan bahwa HMI tidak independen lagi, “ jelasnya.

 

Begitu pula tatkala Drs. Mahadi Sinambela, Ir. H. Senopati  dan Drs. Syarif Husein Basnan yang ditugaskan Akbar Tanjung untuk mengisi formulir kesedian menjadi anggota Golkar sebagai prasyarat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Ternyata Mereka gagal untuk menyakinkan Lafran Pane agar bersedia menjadi anggota Golkar. 

 

Lafran Pane bersedia menjadi Anggota DPA, atas usaha yang dilakukan Akbar Tanjung dan teman-teman, akan tetapi tidak bersedia menjadi  anggota Golkar. Lafran Pane tetap ingin Independen. Akhirnya Lafran Pane diangkat menjadi anggota DPA tahun 1990 tanpa harus masuk Golkar. Di gedung DPA, Lafran Pane tidak masuk Fraksi yang manapun. Papan nama Lafran Pane di DPA bertuliskan: Lafran Pane- Alumni HMI.


Kelima, Hidup Sederhana.


Lafran Pane dan keluarga hidup dalam kesederhanaan. Berkali-kali pindah menyewa rumah, dan terakhir tinggal di Komplek IKIP Yogyakarta (kini UNY) Jl. Mrican 1 E Yogyakarta. Perabotan rumah cukup dan dalam kesederhanaan, tidak terbilang banyak apalagi mewah. Rumah pribadi, kendaraan pribadi, dan telepon tidak punya. Kalau Lafran Pane ke kampus memberi kuliah atau ke tempat lain selalu memakai sepeda onthel.

 

Suatu waktu sepeda Lafran Pane dicuri atau lebih tepatnya diamankan oleh mahasiswanya sendiri di IKIP Yogyakarta, dengan maksud agar Lafran Pane tidak naik sepeda lagi ke kampus. Akan tetapi Lafran Pane mengganti sepeda yang hilang itu dengan membeli yang baru.

 

Mahasiswa yang mengambil sepeda itu memberi tahu kepada Lafran Pane bahwa dialah yang mengambil sepeda itu dengan maksud agar Lafran Pane tidak naik sepeda ke kampus. Sepeda yang diambil mahasiswa tadi, disuruh ambil oleh Lafran Pane untuk dimiliki, dan Lafran Pane tetap naik sepeda kemanapun dia pergi.

 

Begitu juga bersikap, berbuat, dan bertindak, Lafran Pane selalu menunjukkan kesederhanaan dan tidak mau menonjolkan diri. Dalam kesederhanaan itu, Lafran Pane dan Ibu lebih mementingkan kesuksesan pendidikan anak-anaknya. Biar tidak punya apa-apa, asal anak-anak sehat, pintar, tidak pernah tinggal kelas dan lancar studinya, karena kalau tinggal kelas biaya sekolah bertambah lagi.

 

Dr. Toga Fahrudin Pane (alm), Ir. M Iqbal Pane, Dra. Teti Rahmiati Pane, ketiganya sukses dalam studi, lulus tepat pada waktunya dan memporeleh pekerjaan sesuai dengan profesinya.


Keenam, Rajin dan sukses studi.


Di semua jenjang sekolah yang ditempuh Lafran Pane, sejak dari pesantren sampai perguruan tinggi, Lafran Pane adalah murid cerdas dan sukses dalam belajar walaupun banyak hambatan dan rintangan seperti orang tua sering pindah-pindah tempat pekerjaan karena pegawai negeri.

 

Termasuk di perguruan tinggi, Ia seorang yang cerdas dan dapat menyelesaikan studinya dan lulus pertama memperoleh gelar sarjana dalam ilmu politik.

 

Lafran Pane pun dapat meraih gelar guru besar atau Profesor tahun 1966, sebagai karir tertinggi di bidang akademik.


Itulah uraian singkat mengenai Lafran Pane yang dapat kita jadikan teladan dalam kehidupan. Penulis berharap, para pembaca juga membaca berbagai literatur mengenai Lafran Pane, agar kita dapat memahami lebih lanjut sosok almarhum. Akhir kata, mari kita bersama-sama mendoakan almarhum. Alfatihah.


Selamat Hari Pahlawan Nasional!

Dibaca 246 kali
Bagikan ke Medsos !

BERITA 5 BAWAH

  • POLITIK JAMBI
  • HUKUM JAMBI
  • BERITA JAMBI
  • OPINI JAMBI