JoomlaLock.com All4Share.net

bawas1u

Keresahan Ibu Pertiwi terhadap Anak Bangsa
Andri Ode

Ditulis oleh : Andri Ode

Kader HMI Komisariat Fakultas Peternakan Korkom Universitas Jambi

 

Keresahan ini tak mampu dibendung lagi, dinamika hebat antara jiwa dan raga hingga menyebabkan terasingnya pemikiran-pemikiran revolusioner. Revolusi Indonesia kemarin sore sudah mengalami romantika, tak ubahnya bagai Romeo dan Juliet yang sedang bercengkrama.

 

Permasalahan serius bangsa ditopengkan bagai kartun lucu-lucuan. Sehingga membuat persepsi baru tentang bangsa, bahwa kita ini baik baik saja. Ketika bergeraknya para agent of social control, cuma di selesaikan dengan dialektika dan logika bayaran. Maka tak heran lagi, kita sekarang mengalami romantika revolusi dialektika.

 

Bangsa kita sudah tidak bisa lagi dikatakan sebagai negara hukum karena sudah termasuk negri hahaha hihihi kata Gus Mus. Belum bisa berdemokrasi sebab kita masih berada pada kategori "Negri Amplop”, yang segalanya bisa diselesaikan hanya dengan amplop.

 
Sekarang bukan lagi zaman penjajahan yang dapat menghasilkan aktor luar biasa di arena peperangan, yang kita juluki sekarang sebagai pahlawan. Tapi kita sekarang berada di zaman modern yang semuanya serba canggih, serba mesin dan terintegrasi dalam sebuah sistem komputerisasi.

 

Tiap orang ada zamannya, tiap zaman ada orangnya. Karena pahlawan dibesarkan dalam sebuah pertempuran, perekonomian dan percaturan politik. Sosok yang bagaimana lagi yang kita inginkan untuk tetap berjuang demi bangsa kita saat ini ? Karena pahlawan nasional dan pahlawan revolusi sudah habis masanya.

 

Tak kasihankah kita kepada Ibu Pertiwi yang tak bisa lagi menyaksikan sosok anak bangsa yang berjuang untuk Indonesia, yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi bangsa?

 
Sebuah nasehat sederhana “Ajarilah sastra pada anakmu, agar anak yang pengecut menjadi pemberani (Umar bin Khattab)”.

 
Kembali kita renungkan keresahan Ibu Pertiwi untuk bercerita tentang Indonesia. Kita butuh anak bangsa bukan orang tua bangsa, anak yang mempunyai naluri revolusioner, yang sanggup digembleng untuk menata keberaniannya meneriakkan keadilan. Rela mengorbankan jiwa dan raganya hingga lolos berkompetisi dengan alam semesta.

 
Sang Pahlawan!

 
Hubungan saling menghidupkan dan mematikan antara antara pahlawan dan lingkungannya, antara tokoh dan peradabannya akan melahirkan kenyataan dalam sejarah. Karena sebagian besar pahlawan justru muncul ketika masa kejayaan dan masa kebangkitan.

 
Kekuatan sang pahlawan terlahir dari kecemasan. Itulah mata air yang memberikan mereka energi bergerak dan bergerak, melangkah tertatih-tatih sembari jatuh dan bangun, meraba dalam ketidakpastian namun mereka tetap bergerak.

 

Mereka semua dirundung kecemasan, karena jarak yang terbentang antara idealita dan realita, antara harapan dan kenyataan mereka rasakan sangat jauh.


Kenyataan inilah yang ditemukan pada masa penjajahan dulu, sekitar 350 tahun lamanya. Hingga melahirkan kesabaran yang amat besar bagi bangsa. Sebab penjajahan tidak lagi dianggap sebagai penderitaan, selama masih ada generasi yang merasa tidak dalam kesusahan, malah merasa bahwa hidupnya baik-baik saja, kecuali kemerdekaan yang dibatasi. Mungkin merekalah orang-orang soleh yang hidup dan berkeluarga di bawah penindasan.


Keresahan ini berasal dari kondisi bangsa sendiri. Perempuan-perempuan sekarang sudah pelit untuk melahirkan seorang pahlawan. Sudah sepatut nya kids jaman now (anak zaman sekarang) bangkit di tengah orang-orang yang buta huruf, keluar dari golongan domba-domba yang tersesat, pergi dari buih-buih di lautan dan pergi berjuang sebagai orang tercerahkan. Agar kehidupan yang terhormat dan berwibawa dilandasi keadilan akan memenuhi negeri ini.

 

Kita mungkin masih bisa mendengar kata pahlawan, tapi jangan menanti kedatangannya atau menggodanya untuk hadir disini. Seperti menunggu kehadiran Ratu Adil yang tak kunjung datang.

 
Mereka tak akan pernah datang. Karena hakikatnya mereka ada di sini. Mereka lahir dan besar di negeri ini. Mereka adalah Aku, Kau, dan Kita semua.

 

Mereka bukan orang lain. Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka. Dan pada akhirnya, dunia akan menyaksikan pulau-pulau di Indonesia beserta rakyatnya akan adil, makmur dan sejahtera. Semoga. (*)

Dibaca 395 kali
Bagikan ke Medsos !

BERITA 5 BAWAH

  • POLITIK JAMBI
  • HUKUM JAMBI
  • BERITA JAMBI
  • OPINI JAMBI